Dalam beberapa hari terakhir, tagar #IndonesiaTerserah menjadi perbincangan di media sosial. Topik ini muncul saat banyak orang berkumpul di penutupan McD Sarinah dan ramainya pemudik di terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Tagar tersebut menjadi tren yang dipicu gejala pelonggaran PSBB. Hal ini membuat kecewa para pejuang di garda terdepan, yakni, tenaga medis. Mereka seolah menyatakan sikap ‘terserah’ atas perilaku masyarakat yang cenderung tidak menghiraukan lagi adanya pandemi COVID-19.

Selain itu, media asing, South China Morning Post (SCMP), juga menyoroti perilaku warga Indonesia yang dinilai melanggar pembatasan sosial. Media ini membahas kasus di salah satu desa di Jawa Timur, 15 warga terinfeksi korona karena membuka peti jenazah pasien positif COVID-19 dan memandikannya. Tidak hanya itu, salah satu warga Jawa Barat dinyatakan positif korona, tetapi, menolak untuk diobati. Ia bahkan memeluk orang-orang di sekitarnya ketika tenaga medis menjemputnya. Kejadian lainnya yaitu, ramainya masyarakat yang masuk ke mal CBD Ciledug berpeluang meningkatkan penularan virus COVID-19. Belum lagi warga yang tetap menggelar ibadah bersama, masyarakat yang memadati lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) di Pasar Tanah Abang, serta sejumlah perusahaan yang masih beroperasi ketika PSBB diberlakukan.

New normal yang sedang diuji adalah bentuk ancaman kesehatan dan kesejahteraan. Tidak hanya korban jiwa yang masih fluktuatif, sektor ekonomi juga kian memburuk. Kini, kita dihadapkan dengan dua pilihan yang tampak berlawanan. Menyelamatkan jiwa dan memutus rantai penularan COVID-19 dengan pembatasan aktivitas atau mengedepankan kegiatan ekonomi dengan risiko pandemi COVID-19 makin sulit dikontrol. Pemangku kebijakan tampaknya berada dalam dilema dua kutub tersebut. Hal ini mengakibatkan kebijakan yang kerap berubah dan terkesan inkonsisten. Misalnya, larangan mudik dikeluarkan, tidak lama kemudian, muncul pengecualian dan transportasi umum diperbolehkan.

Dilihat dari sisi lain, kondisi ini menjadi perhatian utama, semua orang harus sadar bahwa perjuangan melawan COVID-19 tidak hanya menitikberatkan pada satu kutub. Melainkan, ada dua kutub, kesehatan dan ekonomi yang harus dikelola seimbang. Tuntutan kondisi ekonomi sama gentingnya dengan dampak di sektor kesehatan akibat COVID-19. Artinya, pengambilan kebijakan haruslah mencari formula yang seimbang. Bagaimana caranya ekonomi tetap berjalan dan pergerakan warga tidak memperburuk penyebaran korona. Karena hal itulah, presiden menegaskan bahwa skenario pelonggaran sudah mulai dirancang, meskipun waktu penerapannya masih menunggu saat yang tepat. Sebagai masyarakat, kita sadar betul bahwa COVID-19 hanya dapat dicegah dengan social distancing dan sikap disiplin yang tertanam dalam diri kita. Bukan hanya tenaga medis yang menjadi garda terdepan, namun, masyarakat disiplin juga sangat penting untuk memutus rantai COVID-19.

Nah, sahabat deCODE, mari kita terapkan disiplin agar kurva COVID-19 menjadi landai. Dengan begitu, kita semua bisa beraktivitas kembali seperti semula dan poros ekonomi membaik. 

Penulis: Diva Syafitri Editor: Alfira Nanda Delya