Suatu hari, hidup dua orang remaja yang bersahabat sejak mereka kecil. Bernama “Aku” dan sahabatnya. Mereka berdua sama-sama memiliki cita-cita untuk pergi ke pulau impian mereka yang terletak di bagian utara. Aku berkata pada sahabatnya, “Ayo kita pergi berdua ke pulau impian kita! Aku punya kapal canggih dengan fasilitas lengkap!”, sang sahabat pun meng-iya-kan ajakan Aku.

Mereka berdua pun akhirnya berangkat menuju pulau impian mereka menggunakan kapal mewah nan canggih milik Aku tersebut beserta persediaan makanan yang banyak. Sebelum berangkat, Aku dengan angkuhnya berkata pada sahabatnya, “Karena ini adalah kapal milikku,
maka aku yg akan mengemudikannya!”. Sang sahabat tak mampu berkutik, akhirnya dia hanya bisa diam dan menuruti perkataan Aku.

Di tengah perjalanan, sang sahabat terus mengingatkan pada Aku agar tetap fokus pada kemudi kapalnya supaya bisa sampai di pulau impiannya agar tidak tersesat dan membuang-buang segala persediaan makanan dan bahan bakar kapal.

Namun, Aku pun menghiraukan peringatan dari sahabatnya tersebut, hingga akhirnya ia pun berteriak pada sahabatnya.

“KALAU TERUS-TERUSAN CEREWET SEPERTI ITU, AKAN AKU USIR KAU DARI KAPAL INI!”

Sang sahabat terkejut mendengar teriakan Aku, ia pun akhirnya menjawab,

“Baik! Aku akan pergi dari kapal ini!”

Akhirnya, Aku pun mengusir sahabatnya ditengah lautan bersama dengan kapal cadangan yang berukuran 3 kali lebih kecil dari kapal mewah nan canggih miliknya.

Aku pun akhirnya meninggalkan sahabatnya dan terus lanjut berlayar dengan kapal mewahnya tersebut dan hanya sesekali mengemudikan kapal tersebut. Aku yakin betul bahwa kapal mewah miliknya ini amat sangat canggih, meskipun tidak ia kemudikan kapal ini akan terus melaju lurus.

Akhirnya sang sahabat pun berlayar seorang diri dengan kapal cadangan yg ia dapatkan dan fokus mengemudikannya menuju pulau impiannya.

Sementara itu, Aku terus bermalas-malasan sembari menikmati segala fasilitas dan persediaan makanan yang ada dan hanya sesekali mengemudikan kapalnya jika sedang ingin. Tanpa ia sadari, angin membawa kapal mewahnya tersebut menuju arah barat yang berlawanan dengan pulau impiannya tersebut.

Di sisi lain, sang sahabat terus berlayar mengarungi lautan karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki persediaan makanan sama sekali maka ia harus terus fokus mengemudikan kapal tersebut agar cepat sampai agar ia bisa istirahat dan makan di pulau impiannya. Meski diterpa hujan dan terik matahari ia tetap fokus mengemudikan kapalnya hingga akhirnya ia sampai di pulau impiannya tersebut.

Masih di kapal mewahnya, Aku masih santai-santai menikmati segala fasilitas dan persediaan makanan. Hingga pada suatu waktu badai pun datang, angin kencang meniup kapal mewahnya, kapalnya terombang ambing ditengah lautan, ombak menghantam berbagai sisi kapalnya
sehingga menghancurkan kapal mewah milik Aku. Sang Pemuda tersebut akhirnya kebingungan, Aku ketakutan, Aku pun mengecek kapal cadangan untuk Aku menyelamatkan diri, namun Aku baru ingat bahwa Aku sudah berikan kepada sahabatnya yang telah ia usir.

Badai terus bergelora, gelombang laut besar kemudian datang dan menggulung kapal mewah miliknya dan Aku pun tenggelam dan mati di tengah lautan tanpa pernah sampai di pulau impiannya.

Oleh: Melinda Nurifkha N Editor: Maulani Mulianingsih