Tersadar dari simulasi kenyataan aku merapihkan tempat ku bersimulasi. Membasahi wajah agar merasa baru. Membuka layar candu menemukan kabar yang menusuk jantung. Tempat ku merangkai cerita terserang oleh virus yang berimigrasi. Kepala ku merasa tertembak oleh kekagetan. Otomatis naluri skeptis ku menjalar ke seluruh tubuh.

Selang beberapa hari situasi menajdi mencekam. Semua diminta memenjarakan diri di tempat berteduhnya masing-masing. Dengan harapan agar terhindar dari virus yang berimigrasi yang sedang merajalela penuh kesewenangan. Dari hitungan hari hingga hitungan minggu terasa seperti berabad-abad. Mereka yang biasanya mudah untuk mendapatkan makan dengan cara membeli. Atau dengan cara membeli bahan makanan dan mengolahnya dirumah. Kini harus berdiam dengan terpenjara di dalam rumahnya sendiri.

Semua penghuni yang terbiasa menjajakan masakannya di tepian jalan. Dengan membawa bergelimang harapan untuk keluarganya agar menikmati harapan itu bersama. Kini harus membawa setetes harapan. Masakannya tidak habis di makan oleh para pencari makan.

Di tengah situasi yang penuh kepenjaraan ini sebuah kongsi raksasa. Harus menyelamatkan perputaran modal keuntungannya. Dengan cara menghabisi semua hambatannya. Padahal semua yang dianggap sebagai hambatan adalah pondasi untuk mendirikan istana keuntungannya. Dan yang dilihatnya sebagai hambatan kini menjadi korban yang dikorbankan atas nama keuntungan. Mereka di usir dari istana yang di bangun oleh mereka sendiri.

Semua penghuni yang diminta memenjarakan diri mulai merasa gelisah. Merasakan penuh kepanasan batin dan isi kepala yang mendidih membuat naluri untuk memberontak dengan keadaan. Mereka yang menjadi korban pengusiran atas nama keuntungan mulai merasa penusukan batin. Dan hampir semua orang yang semula bebas merdeka kini menjadi tahanan di tempat berteduhnya sendiri

Walaupun semua menjadi tahanan ada hal terdalam yang penuh kejujuran dan tanpa noda hitam. Yaitu bagian spiritual dari semua tahanan yang sontak keluar menerangi dirinya dan satu sama lain. Spiritual ini yang menyadarkan semua tahanan bahwa mereka terlalu sibuk hingga melupakan dirinya. Diri mereka terlalu sibuk untuk bergerak demi keinginan mereka akan materi yang tidak pernah habis. Materi yang terus bergerak dari waktu ke waktu yang terus memperbaharui diri

Entah mereka melakukan untuk memperkaya materi orang lain dengan imbalan setetes materi. Yang tidak berarti apa-apa bagi mereka yang materinya di perkaya oleh orang memperkayanya. Atau mereka yang memperkaya materinya sendiri dengan kedua tangannya. Mereka semua terlalu sibuk mengejar materi yang menjadi status sosial, menghabisi rasa nafsu, atau hanya sekedar menyambung ceritanya.

Ketika spiritual di dalam diri mereka beranjak keluar. Semua menjadi tersadarkan untuk merasakan rasa syukur mereka. Rasa syukur untuk semua yang telah mereka lewati. Selama ini mereka sering melewati rasa syukur atau sedikit untuk menikmati rasa syukur. Kini mereka bersyukur dan mulai merenungi apa yang telah terjadi dan sedang terjadi.

Mereka sering melewati waktu emas untuk merasakan kekompakkan, yang semula individualis stadium empat. Mereka yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan orang lain. Karena individualis yang tinggi mereka tidak memiliki waktu karena semua berlomba-lomba untuk dirinya.

Kini mereka mulai mengeluarkan rasa kekompakkannya satu sama lain. Mereka mulai merasakan bahwa rasa memberi menjadi energi hari ini.

Mereka yang sering melihat di luar dirinya penuh kenafsuan. Kini mereka melihat ke dalam dirinya penuh kesyukuran. Mereka bersyukur untuk mengingat dirinya yang selama ini terlupakan. Mereka yang memiliki kelonggaran hubungan dengan Sang Pencipta kini memiliki keeratan hubungan denganNya. Sang Pencipta yang sering mereka lupakan kini menjadi yang paling di ingat

Mereka yang lebih sering menghabiskan waktu bersama kawanannya di luar hunian. Kini mereka mencurhakan seluruh waktu mereka untuk menikmati bersama kawanannya di dalam hunian. Begitu berharga waktu bersama mereka di dalam hunian yang biasanya mereka lewatkan seperti angin lalu. Mereka memiliki waktu khusus untuk mereka nikmati penuh rasa cinta dan kasih sayang.

Semua yang memenjarakan diri memiliki hikmah yang mereka tidak dapatkan selama ini. Ketika mereka terlalu sibuk hingga melupakan dirinya. Dipenjarakan oleh virus yang berimigrasi yang merajalela. Menjadi titik ungkat mereka yang memiliki waktu untuk dirinya. Virus yang berimigrasi berhasil berkuasa atas diri mereka. Membuat mereka mengingat dirnya hingga menemukan hikmah di dalamnya.

Semua yang memenjarakan diri yang awalnya mengutuk keadaan. Kini bersyukur dengan keadaan. Semua yang menilai bahwa keadaan di luar keburukan. Kini menilai bahwa di balik itu semua ada kebaikan. Dan kini dengan kekuatan rasa syukur semua keadaan yang sedang buruk menjadi tersungkur. Rasa syukur memiliki energi untuk menjadikan semuanya membaik.

Penulis: Dahlan Khatami Editor: Meta Nur Ayu