Halo sahabat deCODE, seberapa tahu kamu tentang sandwich? Yap! Roti dengan isian daging, keju, sayuran dan ditambah dengan saus-saus yang menggugah selera. Ternyata istilah generasi sandwich atau lebih kerennya sandwich generation ini tidak jauh beda lho dari makna sebenarnya. Yuk, simak yang di bawah ini.

Istilah tersebut pertama kali dikenalkan oleh Dorothy A. Miller, pada tahun 1981 melalui jurnalnya yang berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of The Aging.” Dorothy merupakan seorang profesor di Universitas Kentucky, Lexington, Amerika Serikat. Dalam jurnalnya, Dorothy memberikan penjelasan bahwa generation generasi sandwich merupakan keadaan dimana orang dewasa yang menanggung hidup anak-anak mereka, dan masih menanggung hidup orang tua. Peran dari generasi sandwich memiliki beberapa dampak negatif. Yaitu dari segi fisik, psikologis, emosional, dan beban keuangan.

Sumber Foto: Pinterest

Sandwich generation adalah tanggung jawab finansial. Seseorang bisa disebut sandwich generation apabila ia memenuhi 100% kebutuhan keluarganya secara penuh. Eits, padahal sebenarnya tanggung jawab finansial seseorang adalah keluarga intinya seperti pasangan dan anak- anaknya. Sedangkan pada sandwich generation ini, tanggung jawab finansialnya menjadi lebih banyak dan melebar ke berbagi tempat. Menurut riset, 90% orang yang mengalami beban emosional sebagai sandwich generation ini adalah perempuan. Mengapa demikian? mungkin dikarenakan oleh factor perempuan lebih banyak menanggung beban domestik dirumah. Sedangkan lelaki yang mengalami sandwich generation lebih banyak terbebani dalam hal finansial.

Di Indonesia sendiri, sandwich generation bisa terjadi lho sahabat deCODE. Di tahun 2020 menurut sensus penduduk, data BPS menyatakan bahwa di tahun 2020-2045 Indonesia sedang terjadi bonus demografi. Lebih dari 70% populasi warga Indonesia lebih banyak usia produktif dibanding usia non produktif. Lalu, apakah menjadi generasi sandwich pasti membuat keadaan keuangan si penanggung menjadi sulit? Jawabannya adalah belum tentu.

Sandwich generation memang dihasilkan karena adanya kegagalan dari generasi sebelumnya dalam merencanakan keuangan. Orang tua dari generasi ini biasanya tidak menyiapkan tabungan masa pensiun. Sehingga ketika masuk ke masa pensiun tidak ada tabungan atau investasi yang bisa digunakan sebagai biaya hidup.

Menurut Carol Abaya seorang ahli penuaan dan perawatan lansia, terdapat tiga jenis sandwich generation:
1. Traditional Sandwich Generation
Mereka yang termasuk dalam kategori traditional sandwich generation berusia 40-50 tahun. Umumnya mereka harus menanggung kebutuhan anak-anak mereka yang sudah dewasa namun masih memerlukan dukungan finansial. Sementara di lain pihak mereka juga harus mengurus orangtua mereka yang sudah lanjut usia.
2. Club Sandwich Generation
Golongan pada kategori ini umumnya berusia 50-60 tahun dan 30-40 tahun. Usia 50-60 tahun ialah mereka yang terjepit antara mengurus orang tua nya yang sudah lansia dan anak mereka yang sudah dewasa, bahkan cucu mereka. Sedangkan usia 30-40 tahun, mereka yang memiliki anak kecil serta berkewajiban mengurus orang tua hingga kakek dan nenek nya.
3. Open-Faced Sandwich Generation
Mereka yang terlibat dalam kegiatan perawatan lansia. Meski, itu bukan pekerjaan professional mereka (seperti misalnya karyawan panti jompo) termasuk dalam kategori ini. Diperkirakan ada sekitar 25% orang yang mengalami fase ini dalam hidupnya.

Orang-orang yang menjadi generasi sandwich, biasanya tekanan atau masalah yang didapatkan tidak hanya datang dari sisi finansial. Jadi, sahabat deCODE penting sekali nih untuk mengedukasi finansial management sejak usia muda, agar memutus rantai sandwich generation.

Penulis: Saskia Nurulita Editor: Dhiva Puspa