Kamis, (18/11/21) PUSKAKOM Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) bersama PT RajaGrafindo Persada menyelenggarakan acara daring “Diskusi Buku Komunikasi Antarbudaya Definisi dan Model” yang dihadiri oleh 295 peserta dari berbagai daerah, seperti Aceh, Jakarta, Maluku, Kalimantan, NTT, dan lainnya.

Diskusi Buku Komunikasiantarbudaya

Sumber Foto : Zoom

Acara yang berlangsung sejak pukul 10.00-12.00 WIB ini menghadirkan Rektor UAI, Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. selaku keynote speech, Dosen FISIP UAI, Nanang Haroni, S.Ag., M.Si sebagai moderator dan dua narasumber, yaitu Penulis buku “Komunikasi Antarbudaya”, Prof. Dr. Aloysius Liliweri, M.S. serta Dr. Kussusanti, M.Si selaku Dosen FISIP sekaligus Peneliti Pusat Kajian Ilmu Komunikasi UAI.

3 ALASAN PENTING BUKU INI HARUS DIPAHAMI

Diskusi Bedah Buku Komunikasi Antarbudaya

Sumber Foto : Zoom

Asep Saefuddin mengatakan, bedah buku ini sangat menarik dan penting bagi semua terutama generasi muda. Menurutnya, terdapat tiga alasan penting mengapa buku tersebut harus dipahami, yakni:

  1. Walaupun Indonesia terkenal dengan ragam budaya dan bahasa, tetapi tetap bersatu dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
  2. Indonesia adalah negara kepulauan di mana terpisah dengan dua buah benua, yaitu Eropa dan Australia yang membuat Indonesia seakan terpencil. Di mana menyebabkan komunikasi dengan negara luar terisolir. Walaupun begitu, paradigma tentang lautan harus diubah. Tadinya lautan sebagai pemisah menjadi lautan sebagai penghubung.
  3. Adanya bonus demografi yang diiringi ledakan teknologi dapat menimbulkan efek ganda (positif dan negatif) terhadap hubungan antar kebudayaan.

“Penting terutama untuk teman-teman yang baru masuk ke dunia ilmu komunikasi, temen-temen mahasiswa anda akan mendapatkan banyak insight, banyak pencerahan dari buku ini terkait dengan definisinya yang luas dan model-model dan ini bukan hanya model-model komunikasi yang dirujuk dari berbagai pakar di seluruh dunia, tetapi juga ada model yang dibuat oleh Prof Alo sendiri tentu saja berdasarkan pada rujukan-rujukan”. jelas Nanang selaku moderator.

Diskusi ini dibagi menjadi dua bagian, pembahasan pertama dilakukan oleh Dosen FISIP UAI, Kussusanti dan dilanjutkan pemaparan oleh Penulis Buku Komunikasi Antarbudaya, Aloysius Liliweri.

Kussusanti mengatakan, setelah membaca buku tersebut ia langsung teringat dengan peribahasa ‘Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung’. Di mana kita berada kita perlu memperhatikan budaya setempat. Dia juga berpendapat bahwa buku tersebut berbeda dengan buku-buku lain.

“Apa bedanya buku ini dengan buku-buku lain? Saya ingat peribahasa kedua, ‘Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui’, Saya sepertinya melihat buku ini layaknya membaca banyak buku karena Prof Alo dengan sangat baik menggabungnya, merangkum banyak model dari banyak referensi jurnal dan buku di dalam satu buku ini,” ujarnya.

TERDAPAT 8 BAB BAHASAN

Diskusi Bedah Buku Komunikasi Antarbudaya

Sumber Foto : Zoom

Buku ini berawal dari pengamatan penulis mengenai beragam definisi komunikasi antarbudaya dan komunikasi lintas budaya dari berbagai literatur. Di dalamnya berisi 8 bab pembahasan.

Dimulai dari bab 1 yang merupakan pengantar, berisi pandangan tentang pertemuan antar bangsa dalam kerangka komunikasi antar dan lintas budaya yang semakin mudah. Bab 2 membahas hakikat komunikasi antar dan lintas budaya, melalui penjelasan definisi komunikasi antarbudaya dan lintas budaya.

Pada bab 3, penulis membahas objek studi komunikasi antarbudaya berdasarkan beberapa asumsi dan menjelaskan perbandingan konsep komunikasi antar budaya, antar, lintas dan trans budaya serta objek studi komunikasi antarbudaya. Bab 4 buku ini membahas prinsip komunikasi antarbudaya yang menegaskan bahwa prinsip apapun tetap berbasis pada karakteristik kebudayaan.

Bab 5 membahas konseptualisasi prinsip komunikasi antarbudaya, termasuk beberapa prinsip untuk mengontrol aktivitas komponen komunikasi. Hal ini dilanjutkan pada bab 6 yang membahas hak, kebutuhan, nilai dan etika komunikasi antarbudaya.

Bab 7 membahas konseptualisasi model teoritis serta keutamaan dan keterbatasan model. Buku ini ditutup dengan bab 8 yang berisi 19 model komunikasi antarbudaya yang akan memandu pembaca dalam memahami konsep dan teori komunikasi antarbudaya.

Penulis menyampaikan bahwa komunikasi bukan sekadar percakapan lisan, penulisan atau kemampuan memanfaatkan teknologi media. Namun, komunikasi sendiri memiliki prinsip, yaitu aturan dasar yang mengandung norma-norma atau nilai-nilai pada diri seseorang, kelompok, organisasi atau komunitas.

Prinsip inilah yang membantu manusia menentukan kebenaran atau kesalahan dari tindakannya. Begitu pula dengan komunikasi antarbudaya yang mengandung ide atau aturan dasar untuk menjelaskan atau mengontrol bagaimana komunikasi itu terjadi.

CARA MEMESAN BUKU

Sahabat deCODE yang tertarik memiliki buku Komunikasi Antarbudaya bisa langsung order dengan mengisi google form ini ya!

Pesan Buku: https://forms.gle/gC38jcdrpLHN5ZoeA

Penulis: Siti Masitoh Editor: Amanda Rizki