Apa yang salah ketika diri ini menjadi orang baik? Kurasa tidak ada. Saat itu aku hanya menatap layar laptop mungilku yang sedari tadi masih berisikan cover pertama untuk tugas ujianku. Tidak, tidak ada yang salah ketika kita menjadi orang baik. Mungkin saat itu aku hanya merasa lelah.

Lelah? Lalu kutanya pada diriku. Kau lelah akan hal apa? Kau lelah menjadi baik? Lalu kau akan menjadi orang yang jahat, begitu? Bukankah menjadi orang jahat justru akan sangat melelahkan?

Ketika kau melakukan kejahatan, kau akan berpura-pura tidak mengetahuinya, kau akan kabur dan terus berlari dari perbuatanmu. Kau akan kabur dari setiap hal yang sudah kau lakukan. Justru, menurutku, hal itu sangat melelahkan. Hal itu jauh lebih melelahkan.

Tidak ada yang salah menjadi orang baik. Bahkan, hal itu tak akan pernah salah. Mungkin yang salah adalah ketika kau menunjukan kelemahanmu di depan orang yang sangat kau sayangi.

Kau akan terus mengikuti setiap kata demi kata yang keluar dari mulutnya. Bukan, bukan salahmu ketika setiap pilihan yang telah kamu buat, kamu sesali. Memang itulah konsekuensimu. Tapi, kamu tetap seorang manusia yang tak luput dari rasa sesal.

Kamu baik. Kamu disukai oleh semua orang. Oh maaf, tapi ada beberapa dari mereka yang tidak menyukaimu. Mereka tidak suka karena kamu terlalu baik.

Ah, sudahlah orang seperti mereka tidak perlu kamu hiraukan. Mereka hanya ingin menjadi seperti dirimu. Menjadi wanita yang baik hati. Hatimu sungguh murni wahai gadis mungil di sudut sana.

Jika kebaikanmu membuatmu lelah, beristirahatlah sebentar. Namun, jangan jadikan kelelahanmu sebagai alasan untuk menjadikan dirimu orang yang jahat.

Aku hanya memintamu untuk beristirahat. Aku memintamu untuk tetap tegar seperti dirimu yang sebenarnya.

Wahai gadis, tiada yang lebih menenangkan dibandingkan ketulusan serta kebaikan hatimu. Aku bangga padamu, atau harus kukatakan aku bangga pada diriku. Aku bangga untuk menjadi orang yang baik.

Writer: Nur Syifa Buchis | Editor: Sasya Semitari P & Galih Perdana