Satu bulan yang lalu, media sempat diramaikan dengan berita-berita mengenai Hari Gizi Nasional. Dimana pada tahun ini, Hari Gizi Nasional mengangkat tema bersama membangun gizi menuju bangsa yang sehat dan berprestasi. Dilansir dari Vimale.com, tema ini masih diangkat karena keadaan gizi masyarakat Indonesia yang masih rendah.Salah satu kasus yang menjadi konsen dari tema tersebut adalah Stunting.

Sahabat deCODE, tahu ngga sih, stunting itu apa? Apakah itu sejenis penyakit atau virus? Apa sih penyebabnya? Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Kali ini deCODE ingin memberi sedikit penjelasan tentang bahaya Stunting. Yuk disimak informasinya!

Apa sih stunting itu?

Stunting adalah sebuah masalah kurang gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari standar tinggi anak seusianya. Stunting ini juga ternyata merupakan masalah gizi utama pada anak di bawah lima tahun di Indonesia loh, sahabat deCODE. Sembilan juta anak Indonesia mengalami Stunting, artinya satu dari tiga anak tidak dapat mencapai potensi maksimalnya.

Kalau kalian tahu pesepak bola terkenal bernama Lionel Messi itu, dulunya juga pernah menderita penyakit stunting. Pada usia 11 tahun, Messi di diagnosa menderita stunting sehingga tinggi badannya tidak bisa seperti teman-teman sebayanya. Kemudian, Messi menjalani pengobatan berupa suntikan hormon agar bisa terus tumbuh. Untuk pengobatannya sendiri itu tidaklah murah, orang tua Messi perlu mengeluarkan biaya sebesar $900 perbulannya. Untungnya Charles Rexach, seorang direktur sebuah  klub sepak bola bernama FC Barcelona menawarkan untuk membiayai pengobatan Messi asal ia mau pindah ke Spanyol. Pengobatan terus dilakukan hingga akhirnya Messi bisa seperti sekarang ini.

Apa penyebabnya? Stunting ini bisa di sembuhkan ngga sih

Seringkali sebabkan oleh kurangnya kebersihan dan sanitasi, malnutrisi kronis pada anak. Terutama pada 1000 hari pertama kelahirannya, serangan infeksi berulang atau penyakit kronis itu yang menyebabkan anak-anak menderita stunting.

Karena ini bukan sebuah penyakit, jadi masih bisa ditangani. Contohnya dengan selalu memamakn panganan yang bergizi dan bernutrisi. Walaupun demikian, tetap saja anak yang pada masa kecilnya menderita stunting, pertumbuhannya tidak akan semaksimal anak-anak yang tidak menderita stunting.

Apa dampak dari Stunting? Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

Dampaknya adalah pertumbuhan fisik pada anak tidak maksimal. Timbulnya resiko penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, dan jantung koroner. Perkembangan otak anak tidak maksimal. Selain itu, dapat pula menyebabkan penurunan fungsi kognitif dan produktivitas.

Salah satu cara mencegahnya ialah pastikan sebelum melahirkan, ibu harus mengonsumsi makanan yang sehat, bergizi dan bersih. Semua komponen nutrisi harus terpenuhi, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, yang paling penting calon ibu harus rajin mengonsumsi suplemen vitamin tambahan, khususnya Folic acid (vitamin B9) dan Iron (zat besi).

Folic acid untuk mencegah kecacatan pada anak, misalnya Spina Bifida, zat besi untuk, mencegah anemia. Para ibu juga harus memberi ASI eksklusif selama 6 bulan, memberi gizi tepat selama 1000 hari pertama kelahiran, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Apakah di Indonesia ada komunitas yang memberitahukan masyarakat luas tentang bahaya Stunting?

Ada! Sekelompok mahasiswa dari Universitas Indonesia membuat sebuah kampanye yang dilakukan setiap minggu pagi di area Car Free Day, Bundaran Hotel Indonesia. Mereka memberitahukan informasi tentang bahaya stunting kepada para masyarakat. Tujuan mereka melakukan kampanye ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stunting, apa saja bahayanya dan juga bagaimana cara pencegahannya. Kalau kalian ingin mendukung atau bergabung dalam kampanye, kalian bisa follow Instagram mereka di @us.against.stunting.

Nah! Bagaimana sahabat deCODE, sudah jelas, kan? Jadi kesimpulannya, stunting itu sangat berbahaya dan beresiko bagi anak-anak Indonesia. Semoga berita ini dapat menambah pengetahuan sahabat deCODE tentang stunting dan juga dapat mencegahnya sedini mungkin.

Reporter: Melinda Nurifkha | Editor: Nadhira Aliya & Galih Perdana