Hidup itu kayak makanan. Dalam satu piring ini lo bisa ngerasain yang pahit sepahit-pahitnya atau yang seasin-asinnya kalau lo makannya sendiri-sendiri. -Bono

Aruna dan Lidahnya. Sebuah film dengan sinematografi makanan bercampur cita rasa perasaan terbaik yang pernah ada. Menyuguhkan wisata kuliner dan petualangan antar sahabat yang dikemas secara apik dan juga asik.

This movie is definitely a work of art. Gimana enggak, sepanjang mata memandang seakan-akan semua panca indera laksana dipukau dengan suguhan serta tampilan makanan yang aduhai. Asli bikin ngiler! Selain karena makanannya, perjalanan seru dan kisah pertemanan yang asyik di dalam film ini juga dijamin bikin ngiler. Friendly reminder, sebelum nonton film ini kalian perlu banget makan dulu atau seengaknya nonton sambil makan deh. You’ll thank us later. Nowlet’s move on to the review, shall we?

Aruna dan Lidahnya memiliki jalan cerita yang cukup menarik untuk diikuti. Meskipun sudah tertebak gimana akhirnya, there’s just something about the story that is as fascinating as the food.

“Food is a journey”. Entah siapa yang pernah bilang demikian, tapi rasanya itulah yang coba disampaikan oleh film ini. Perjalanan sebuah persahabatan yang diawali dari berkenalan, berteman, hingga bersahabat ini diiringi dengan culinary trip ke berbagai kota di Indonesia. Dari Surabaya, Pamengkasan, Madura, Pontianak hingga Singkawang. Terasa sangat menyenangkan dan bikin kita pengen ikutan wisata kuliner beneran setelah selesai nonton film ini!

Dian Sastrowardoyo sebagai Aruna, benar-benar pas memerankan seorang perempuan yang cerdas, pecinta makanan dan juga penggiat kerja. Nicholas Saputra sebagai Bono, seorang chef handal yang juga adalah sahabatnya Aruna, terlihat memaikan perannya dengan sepenuh hati.

Konon katanya, Nicholas Saputra memang suka masak lho. Tidak ada lagi impresi Cinta dan Rangga diantara mereka berdua. Dengan chemistry yang memang sudah terbangun bertahun-tahun, persahabatan keduanya dalam film ini terlihat sangat natural.

“Hati-hati jangan terlalu antipati, ntar simpati, terus empati, terus jatuh hati” -Bono

Oka Antara sebagai Farish serta Hannah Al Rasyid sebagai Nad seakan menjadi bumbu pelengkap dan penyempurna dari kisah pertemanan empat orang ini.

Film ini benar-benar seru banget! Pertama kita dibikin tertarik, terus laper, terus jatuh hati sampai jadinya baper dan laper lagi. Aruna dan Lidahnya dengan berani menunjukkan bahwa makanan dipinggir jalan atau makanan kaki lima di Indonesia itu tidak bisa diremehkan.

Edwin sebagai sutradara, menjadikan Aruna dan Lidahnya sebagai film yang well-directed. Para aktor dan aktris pun benar-benar terlihat tahu peran apa yang sedang mereka mainkan ketika sang sutradara sudah meneriakkan”Action!”. Penuh percakapan tentang konspirasi dan cinta, film ini bernafas dengan perbedaan karakter yang berpadu menjadi kesatuan yang manis. Semanis kisah cinta Aruna & Farish serta Bono & Nad.

Bila nanti kalian sudah “menyantap sampai habis” filmnya, kalian akan mengerti bahwa film Aruna dan Lidahnya mengajarkan betapa pentingnya menyampaikan perasaan dengan terang benderang. Baik itu perasaan suka akan makanan maupun suka akan seseorang.

Aruna dan Lidahnya is a good movie for those of you who like to watch movie and to eat along the way. Kalian akan dibuat terpukau oleh semua makanan di dalam film ini. Bahkan nasi goreng aja terlihat super enak di dalam film ini. Kemampuan seni peran para pemain yang mumpuni dan tak diragukan lagi juga akan membuat kalian terpukau! Nikmati film ini mumpung masih hangat ya, sahabat deCODE!

Reporter: Galih Perdana Editor: Safa