Riang tawa menggema di Auditorium Arifin Panigoro. Anak-anak berlarian ke sana kemari dengan senyuman ceria terpancar dari wajah-wajah mungil mereka. Lantunan hadroh dari Darul Aitam kian menghangatkan suasana sebagai pembuka acara.

Pada puasa hari ke-12 Ramadhan 1440H, tepatnya 17 Mei 2019, tim reporter deCODE berkesempatan menghadiri acara Berbagi Kemuliaan di Bulan Ramadhan atau yang disebut dengan BERLIAN. Di tahun keduanya, BERLIAN mengusung tema “Sucikan Hati Menjaga Ibu Jari.” Acara yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Ilmu Sosial Ilmu Politik (KM FISIP) ini memiliki dua segmen, yakni seminar dan buka puasa bersama mahasiswa aktif FISIP UAI, para dosen FISIP UAI, serta anak-anak dari Rumah Yatim.

“Sesuai dengan singkatan dari nama BERLIAN itu sendiri, yaitu ‘Berbagi Kemuliaan di Bulan Ramadhan,’ dari singkatan tersebut kami berharap kegiatan silaturahmi ini bukan hanya sekedar acara buka bersama saja tetapi mempunyai maslahat terhadap orang lain terutama anak-anak yatim piatu. Maka dari itu BERLIAN 2019 mencoba untuk mendatangkan anak-anak yatim piatu untuk bergabung bersama BERLIAN 2019 untuk berbuka puasa bersama-sama,” ujar Dunda, Wakil Ketua Pelaksana BERLIAN yang merupakan mahasiswa Hubungan Internasional saat dimintai keterangan oleh tim reporter deCODE.

Sumber foto: Dokumen deCODE

Segmen seminar pada acara ini diisi oleh Dr. H. Zahruddin Sultoni M.A. dan Bagus Tito Wibisono. Dalam pemaparan singkatnya, para pembicara menjelaskan bagaimana masyarakat Indonesia saat ini sudah mulai melupakan budaya menjaga lisannya yang mana telah diajarkan dalam Islam. Kini, trend membicarakan orang lain di media sosial sudah kian menjadi kebiasaan. Sehingga, kita kerap kali membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar.

“Ketikan pada sosial media, omongan omongan yang terkenal menyakitkan oleh netizen berawal dari pengetikan pada kolom komentar dalam akun-akun media sosial, dengan ibu jari apakah kita juga dapat melakukan ghibah dan menyakiti org lain, makadari itu dari situlah kita ingin ikut menyadarkan mahasiswa FISIP bagaimana baik dan buruknya,” ujar Ifa, Ketua Pelaksana BERLIAN.

Mahasiswi semester 5 jurusan Ilmu Komunikasi ini juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan tema dan target audience di tahun ini dengan acara tahun sebelumnya. Ifa mengaku acara BERLIAN kali ini menargetkan kehadiran 200 masyarakat FISIP UAI. Tak hanya itu, BERLIAN 2019 juga turut menghadirkan 15 anak dari Rumah Yatim.

Sumber foto: Dokumen deCODE

Rangkaian acara ditutup dengan pengumuman dan pembagian hadiah pemenang kuis giveaway BERLIAN yang telah diadakan sebelumnya di Instagram dan juga games PS FISIP yang telah diselenggarakan pada acara SATUAN. Dilanjutkan dengan buka puasa bersama para hadirin acara BERLIAN.

Keseruan acara BERLIAN menuai berbagai respon positif dari masyarakat FISIP yang hadir. “Ini acara sangat menarik banget udah gitu punya manfaat yang banyak, terus menariknya lagi di sini kan jadi ada dua program studi ya yaitu HI dan Ilmu Komunikasi jadi kita tuh bisa kenal satu sama lain berkumpul di acara yang satu tahun sekali ini. Keren banget sih acara BERLIAN tahun ini terus ada kaya perlombaan kaya FIFA 19 gitu-gitu jadi seru sih,” kata Tiwi, mahasiswi semester 4 Ilmu Komunikasi yang menghadiri BERLIAN.

Namun, dibalik keseruan dan kesuksesan acara ini, Ifa mengaku bahwa terdapat berbagai kendala sebelumnya. “Acara kemarin alhamdulillah lancar, makanannya habis lebih sedikit jadi dapat dibagikan juga kepada yang membutuhkan, semuanya sesuai keinginan, hanya pembicara 2 yaitu Amar Ar Risalah berhalangan hadir tiba-tiba h-2 membatalkan dan mencarikan pengganti yaitu Bagus Tito untuk hadir mengisi materi di BERLIAN 2019. Alhamdulillah nggak ada hal serius yang gawat gitu hehehe,” ungkapnya.

Reporter: Vira Annisa Editor : Emir Salim