Belakangan ini revolusi industri 4.0 sering kali dibicarakan, terlebih lagi dikalangan anak muda sebagai generasi milenial. Industri 4.0 lahir ketika teknologi internet muncul. Kemajuan teknologi ini memudahkan kita untuk menghadapi masalah yang berkaitan dengan kecepatan informasi dalam batasan ruang dan waktu. Saat ini informasi sangat mudah didapat, hanya dalam hitungan menit, bahkan hitungan detik. Memang senang rasanya dapat menikmati kemudahan tersebut, namun kita juga dibuat sulit bertahan di era industri 4.0 tersebut karena mulai muncul lebih dari satu platform internet dengan jenis dan karakter yang berbeda.

Kini Communication Festival 2019 hadir kembali untuk menjawab kegelisahan para kaum milenial di industri 4.0. Communication Festival atau Comfest merupakan acara yang diselenggarakan oleh program studi Ilmu Komunikasi melalui Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK). Tahun ini, Comfest mengusung tema “Communication In Digital Era” dengan tagline “Take A Chance For A Change”.

Sumber Foto: Aulania Silviananda

“Tema tahun ini kita ingin mengkomunikasikan cara kita berkomunikasi di era digital ini, comfest ini tidak idealis tetapi lebih realistis apa yang dibutuhkan oleh orang orang khususnya anak muda, apa sih yang lagi dibutuhkan di era sekarang, 4.0 yang serba digital.” Ujar Zafran selaku ketua pelaksana Comfest 2019.

Untuk itu, Comfest membuat rangkaian acara berupa kompetisi bernama ‘Comfestition’, antara lain Go Public Relation Professional, Advertising Time dan Broadcasting Way. Selain kompetisi, Comfest juga mengadakan seminar dengan pembicara yang mumpuni untuk menjawab tantangan yang akan dihadapi oleh para anak muda di Industri 4.0. Pembicara seminar Comfest 2019 antara lain adalah content creator Raditya Dika, dan Aulion serta Public Relations Section Head PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk, yaitu Rizky C. Saragih.

Raditya Dika menekankan pentingnya sebuah konten atau ide di era sekarang ini. Baginya, salah satu cara untuk bisa bertahan di era ini adalah memiliki konten. Konten adalah salah satu modal yang bisa dimiliki untuk dapat bersaing seiring dengan perkembangan zaman.

“Sekarang itu eranya konten. Lo mau jadi apapun, kalau tidak bisa create konten, lo tidak akan jadi apa apa. Lo tidak bisa bersaing bersama orang-orang di sekeliling lo.” Ujar Raditya Dika saat mengisi seminar.

Pentingnya konten tentu diakui juga oleh Aulion. Menurut Aulion, konten merupakan karya. Baginya, sosial media adalah salah satu platform yang bisa digunakan untuk berkarya atau membuat konten sebagai salah satu cara berbicara kepada orang banyak dan menyampaikan pendapat. Konten itu sendiri bisa didapatkan dari mana saja.

“Sekarang guna sosial media emang untuk berbicara melalui karya. Seperti karya video gue, gue menganggap karya gue adalah cara gue berbicara dan sharing pendapat. Konten atau ide bisa datang dari mana saja, ide bisa muncul terlintas dari obrolan teman.” Ujar Aulion.

Berkaitan dengan konten, Rizky C. Saragih juga memberikan tips tentang pentingnya pemetaan digital terhadap konten yang akan dibagikan di sosial media. Menurutnya, setiap platform sosial media memiliki ciri khas dan karakternya masing-masing. Setiap sosial media perlu pengemasan konten yang sesuai dengan karakter dan ciri khas sosial media tersebut.

Posting di facebook dengan posting di Instagram, serta twitter jangan disamakan dengan posting di LinkedIn. Karena basic LinkedIn itu untuk lingkup profesi profesional, rasanya agak canggung kalau pakai gue elo, itu tidak profesional. Nah itu berarti pemetaan digital menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kalau main Instagram baiknya tidak usah buat thread-thread seperti di twitter, karena Instagram basicnya untuk foto dan video.”

Reporter: Maulani Mulianingsih Editor: Zalzabillah Ullyl Albi