Halo, sahabat deCODE! Bagaimana nih keadaan kalian setelah menjalani masa karantina selama kurang lebih 3 bulan ini? Semoga kalian tetap semangat dalam menjalani masa karantina ini dan jaga kesehatan diri kalian ya.

Seperti yang kita ketahui, Bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh berkah yang kehadirannya dinanti-nanti oleh masyarakat Muslim. Tidak hanya menjadi bulan yang penuh harapan serta terkabulnya doa-doa yang kalian panjatkan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dengan keluarga, kerabat dekat, rekan kerja, dan pasangan ketika buka bersama. Nah, berikut kebiasaan unik yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan seperti biasanya, namun kini kebiasaan tersebut terpaksa harus ditiadakan. Walaupun, kondisi memaksakan harus seperti ini setidaknya esensi keberkahan Bulan Ramadhan tidak pernah hilang di tahun ini ya, sahabat deCODE

1. Tarawih di Masjid

Sumber foto: Tirto.id

Tarawih di Masjid merupakan kegiatan ibadah sunnah yang dilakukan oleh umat Muslim setelah berlangsungnya buka puasa. Hal tersebut menjadi kegiatan rutin yang berperan sebagai ibadah penuh ampunan di Bulan Ramadhan. Apabila di Bulan Ramadhan seperti biasanya, umat
Muslim dapat melaksanakan sholat Tarawih berjamaah secara khusyu’ kini hanya bisa melaksanakan ibadah sholat tarawih di rumah masing-masing secara mandiri agar tetap menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan dengan menambah segudang pahala. Sangat disayangkan ‘kan ya, sahabat deCODE? Walaupun, terhalang COVID-19, ibadah sholat Tarawih tidak akan mengurangi pahala apabila kita lakukan secara mandiri.

2. Buka Puasa Bersama

Sumber foto: Liputan6.com

Tradisi ini sudah pasti banyak ditemui di berbagai tempat, mulai dari mall, restaurant, tempat makan atau di rumah. Hal ini sudah menjadi tradisi utama sebagai ajang untuk menjalin silaturahmi dengan kerabat dekat merupakan pintu pembuka rezeki yang tak terhingga. Namun, kini momen buka puasa bersama tidak bisa lagi dilaksanakan akibat adanya peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Penerapan physical distancing perlu dilakukan untuk memutus rantai mata penyebaran virus COVID-19.

3. Sahur On The Road

Sumber foto: Ujungjari.com

Selain buka bersama, kegiatan Sahur On The Road ini menjadi kesempatan untuk beramal dan membagikan makanan dan minuman ke orang-orang yang membutuhkan. Mengingat dilaksanakan satu tahun sekali saat menyambut Bulan Ramadhan, kini kegiatan ini harus ditiadakan terlebih dahulu agar wabah virus COVID-19 ini cepat berakhir. Untuk menambah pahala disaat Sahur On The Road (SOTR) ditiadakan, sahabat deCODE bisa menggantinya dengan memberikan makanan kepada orang-orang yang lebih membutuhkan. Nah, saat wabah virus COVID-19 ini belum berakhir, SOTR menjadi suatu hal yang harus dihindari demi memutus rantai penyebaran virus COVID-19.

4. Banyak Penjual Takjil Dadakan

sumber foto: prelo.id

Pada bulan Ramadhan sebelumnya, penjual takjil berseliweran mulai menjamur diberbagai sudut kota. Mereka berbondong-bondong mencari nafkah dengan menjual berbagai macam menu berbuka puasa seperti gorengan, kolak pisang, es kelapa, es campur dll. Namun, kini para penjual tidak bisa sembarangan berjualan di berbagai sudut kota akibat wabah virus COVID-19.

5. Ngabuburit

sumber foto: pesonatravel.com

Ngabuburit atau jalan-jalan sore merupakan kegiatan rutinitas yang wajib dilakukan sembari menunggu berbuka puasa. Kegiatan ini sudah tidak asing lagi. Tetapi, kali ini keadaannya berubah 180 derajat nih, sahabat deCODE! Kegiatan ini apabila terpaksa dilakukan akan menimbulkan hal-hal tidak diinginkan yang berujung pada sanksi dari pemerintah. Namun kita masih tetap bisa dilakukan secara daring untuk menunggu berbuka puasa. Walaupun, terhalang virus COVID-19, ngabuburit tetap harus hadir di setiap kesempatan bulan Ramadhan, ya!

Nah, itu dia beberapa kebiasaan unik yang melekat di masyarakat secara turun-temurun pada bulan Ramadhan. Semoga dengan adanya wabah virus COVID-19 yang tak kunjung selesai ini dapat memberikan sebuah pelajaran dan juga dapat kita petik hikmahnya ya, sahabat deCODE! Be positive, and positive energy be with you!

Penulis: Bella Alfiyanti Editor: Halimah Saadiyah