Seperti kata pepatah, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”. Begitu juga dengan kisah Suleyman, seorang sersan Turki dan anak kecil yang ia beri nama Ayla.

Kisah Nyata Janji Seorang Ayah: Film Ayla The Daughter of War Bikin Netizen Nangis

Sumber Foto : klik koran

Akhir-akhir ini FYP TikTok dipenuhi dengan cuplikan Film Ayla The Daughter of War yang dikemas dengan backsound sedih. Hal itu berhasil menarik simpati netizen dengan komentar positifnya. Banyak dari mereka mengaku tidak bisa move on setelah menonton film yang rilis pada 2017 itu. Kolom komentar dari setiap konten yang membahas film ini juga ramai dengan emoticon sedih.

Film mengharukan ini adalah kisah nyata tentara Turki, yaitu Suleyman. Ia dikirimkan ke Korea Selatan untuk tugas negara pada tahun 1950. Kondisi Korea Selatan saat itu sangat miris, hancur lebur akibat serangan dari Korea Utara. Suatu malam, ketika Suleyman dan tentara lainnya menyusuri hutan, ia menemukan seorang anak kecil yang menangis di antara tumpukan mayat.

Kisah Nyata Janji Seorang Ayah: Film Ayla The Daughter of War Bikin Netizen Nangis

Sumber Foto : safekey

Suleyman membawa anak kecil itu ke basecamp, kemudian ia beri nama Ayla yang artinya sinar bulan. Ayla dirawat dengan baik oleh Suleyman dan teman-temannya, bahkan Suleyman sudah menganggap Ayla seperti anak kandungnya. Padahal kala itu Suleyman belum berkeluarga, tapi kasih sayangnya kepada Ayla begitu besar. Kebersamaan mereka juga membuat Ayla akhirnya bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Turki. Ayla juga memanggil Suleyman dengan sebutan ‘Baba’.

Setelah satu tahun bersama, pada tahun 1951 penugasan Suleyman telah selesai dan ia harus kembali ke Turki. Ini adalah scene yang bisa dibilang sangat menusuk hati dan menyakitkan. Suleyman dengan terpaksa harus meninggalkan anak kesayangannya itu. Bisa kita bayangkan betapa patah hatinya mereka berdua. Suleyman sudah melalukan segala cara agar Ayla bisa ia bawa pulang ke Turki. Namun, hal itu gagal.

Sebelum benar-benar meninggalkan Ayla untuk kembali ke Turki, Suleyman berjanji di hadapan Ayla yang sudah sesegukan, jika nanti mereka akan bertemu lagi.

“Aku akan kembali untukmu, mengerti? Aku akan kembali, dan kita tak akan terpisahkan”.

Tidak hanya itu, perkataan Suleyman yang begitu membekas adalah saat ia mengatakan,

“Ayah berjuang untuk anak-anak mereka. Mereka hidup untuk memenuhi janji. Aku akan kembali. Aku janji”.

Suleyman menikah dengan gadis bernama Nimet pilihan orang tuanya. Sebenarnya ia telah memiliki kekasih selama bertugas di Korea. Namun, kekasihnya memilih untuk menikah dangan pria lain karena merasa Suleyman lebih mementingkan Ayla ketimbang dirinya. Setelah menikah, Suleyman mencoba mencari keberadaan Ayla dengan segala cara, tapi hasilnya nihil. Setelah 60 tahun kemudian, akhirnya takdir mempertemukan Ayah dan anak itu kembali, tepatnya pada 2010.

Kisah Nyata Janji Seorang Ayah: Film Ayla The Daughter of War Bikin Netizen Nangis

Sumber Foto : Youtube

Suleyman berhasil menepati janjinya sebagai seorang Ayah kepada Ayla. Happy Ending!

Gimana sahabat deCODE, filmnya sedih banget kan? Walaupun sudah diberikan spoiler, rasanya pasti beda banget kalau nonton langsung. Jadi setelah ini, kalian langsung nonton filmnya ya! Film ini diadaptasi dari kisah nyata loh, pasti penasaran kan sama sosok asli dari Baba Suleyman dan Ayla? Nih, spesial untuk sahabat deCODE yang penasaran. Namun, pada 2017 lalu Suleyman kembali meninggalkan Ayla untuk selama-lamanya. Semoga Baba diberikan tempat terbaik di sisi-Nya.

Bonus foto kebersamaan sosok asli Suleyman dan Ayla kecil.

Sumber Foto : www.aa.com.tr

Kisah ini mengajarkan kita bahwa cinta sejati memang benar ada. Cinta sejati bukan melulu mengenai sepasang kekasih, tetapi keluarga. Mencari dan menunggu selama 60 tahun bukanlah waktu yang singkat. Melaui kisah ini kita menyadari bahwa skenario Allah memanglah yang terbaik. Allah berikan happy ending untuk kisah ini dengan berhasil dipertemukannya kembali Suleyman dan anak kesayangannya, Ayla. Terima kasih Baba Suleyman karena telah menepati janji sebagai seorang Ayah.

Penulis: Siti Masitoh Editor: Alfira Nanda