Beberapa waktu lalu, muncul berita yang cukup mengagetkan terkait wabah difteri. Mahasiswi UIN, Aufatul Khuzza dikabarkan meninggal karena terjangkit bakteri Corynebacterium, bakteri penyebab difteri. Namun, dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Kesehatan Tanggerang Selatan, hasil tes menyebutkan bahwa mahasiswi tersebut negatif difteri dan meninggal karena penyakit lain. Sebab, berdasarkan hasil laboratorium, di dalam tubuhnya tidak ditemukan bakteri difteri.

Walaupun meninggal nya mahasiswi tersebut bukanlah karena bakteri difteri, wabah ini tentu tetap mengkhawatirkan sejumlah masyarakat. Difteri sendiri dapat tertular melalui benda yang sudah terkontaminasi, bersentuhan langsung dengan luka pengidap, bahkan melalui udara ketika pengidapnya bersin atau batuk.

“Penularannya yang aku tau dari udara ya, jadi secara kasat mata gak bakalan keliatan. Jadi daripada kita terjangkit dan bisa menyebabkan kematian, mending mencegahnya. Kita mahasiswa pasti sering banget ketemu banyak orang ya. Apalagi buat anak UAI, banyak yang rumahnya jauh dan naik kendaraan umum. Besar kemungkinan juga akan tertular karena kan kita gak tau orang-orang yang satu kendaraan umum sama kita terjangkit difteri atau nggak,” ungkap Aulia Ramadhani, salah satu mahasiswi Universitas Al Azhar Indonesia.

Gejala yang ditimbulkan ketika terjangkit difteri umum nya ada pada bagian tenggorokan dan mulut karena difteri bisanya menyerang selaput lendir dan juga tenggorokan. Gejalanya antara lain Muncul lapisan tipis berwarna abu-abu di tenggorokan, sakit tenggorokan dan suara serak, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, pilek, sulit bernapas, dan demam. Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Tentunya banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran bakteri difteri ini, seperti menggunakan masker, berpola hidup sehat, dan mencuci tangan selepas beraktifitas. Tetapi, hal yang paling ampuh untuk mencegah difteri adalah dengan melakukan vaksin. Vaksin difteri sendiri diberikan melalui imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis).  Aisyah Azzahra, salah satu mahasiswi UAI mengungkapkan pentingnya vaksin sejak kecil.“Vaksin itu perlu dari kecil. Apalagi kalau masih kecil kan imunnya belum kuat, jadi emang harus dicegah dari kecil,” tuturnya.

Terkait vaksin difteri, Iranda, salah satu mahasiswi farmasi Universitas Pancasila menyebutkan bahwa vaksin memang sangat diperlukan. “Sebenarnya pemberian vaksin itu tergantung individu tersebut. Sebenarnya tubuh kita dapat mengobati penyakit tersebut walaupun dengan proses yang lebih lama. Dengan disuntikkannya vaksin difteri, sistem imun individu tersebut jadi mengenali antigen dari difteri. Sehingga, jika suatu saat terjangkit difteri, sistem imunnya dapat menghancurkan difteri dengan lebih mudah,” ungkapnya.

Pencegahan ampuh melalui vaksin pun membuat Aisyah dan Aulia berharap Universitas Al Azhar dapat  menyelenggarakan vaksin untuk para mahasiswanya. “Mungkin bisa diadakan suntik gratis bagi seluruh mahasiswa/i UAI agar memastikan mahasiswanya sudah suntik difteri dan tidak terjangkit penyakit tersebut,” tutupnya.

Sumber foto: google.com

Reporter: Safa | Editor: Galih Perdana