Ada tiga peminatan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia. Strategic Marketing Public Relations, Branding and Advertising, dan Broadcasting And New Media. Semuanya, keren. Tapi mana yang kamu pilih? Apa yang harus dipertimbangkan untuk menentukan pilihan?

deCODE, Jakarta — Di tahun kedua kuliah, mahasiswa Ilkom UAI wajib memilih satu dari tiga bidang peminatan yang ada. Dua tahun, berbagai mata kuliah dasar dinilai cukup untuk mengantarkan setiap mahasiswa pada peminatannya.

‘’Artinya, di tahun kedua, mereka harusnya sudah bisa mengidentifikasi minatnya sendiri, dan jurusan apa yang akan mereka ambil. Tentu, ini juga berkaitan dengan cita-cita atau impian mereka hendak bekerja atau mengembangkan karier di bidang apa, nantinya,’’ kata Edoardo Irfan, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UAI (16-12-2016) saat membuka diskusi peminatan di Auditorium Arifin Panigoro lt.3 Universitas Al Azhar Indonesia.

Dalam diskusi yang khusus diselenggarakan bagi angkatan 2015 ini, hadir tiga narasumber dari masing-masing peminatan untuk menceritakan pengalaman mereka. “Menjadi broadcaster berarti menjadi saksi dari berbagai kejadian hebat dan mendapat pengalaman berkesan,” kata Tubagus Aditya Nugraha, S.Ikom, alumni peminatan Broadcasting and New Media 2013.

Adit, demikian ia disapa, saat ini bekerja sebagai Junior Producer di Metro TV dan pernah meraih beberapa penghargaan, antara lain AMIC (Asian Media Information and Communication Centre) International Conference Speaker, Selangor, Malaysia pada tahun 2012, Prabudaya National Call of Paper Speaker, Universitas Budi Luhur Jakarta pada tahun 2012, dan penghargaan sebagai “Best Student” di Universitas Al Azhar Indonesia pada tahun 2013.

Ditambahkan Adit, peminatan Broadcasting menarik karena lingkungan kerja yang dinamis, bisa belajar profesional sejak dini, membawa tanggung jawab terhadap publik, memiliki channel dan lapangan kerja yang sangat luas, dan mencakup semua keilmuan. “Alhamdulillah, peminatan Broadcasting di Universitas Al Azhar Indonesia sesuai dengan apa yang ada di dunia Broadcasting. Selain itu, butuh banyak referensi, tidak hanya terpatok pada SAP,” jelas Adit.

Sedangkan dari peminatan Strategic Marketing Public Relations, Linda Fitriesti, S.Ikom yang ini bekerja sebagai Corporate Event PT. Garuda Food Putra Putri Jaya menyatakan bahwa pekerjaannya juga tak kalah dinamis. ‘’Kita harus menjadi mata dan telinga perusahaan. Apabila ada isu yang mengganggu atau bahkan mematikan perusahaan, kita harus tahu lebih dulu dan mengambil tindakan di wilayah kita,’’ kata Linda.

Sebelum di Garuda Food, Linda pernah bekerja di media penyiaran, Trans7 sebagai Media Relations, Corporate Relations, dan Marketing Public Relations. Linda menambahkan bahwa saat ini, seorang PR harus memiliki karakter baik atau personal branding yang kuat. ‘’Kita dipantau dan mengukuhkan diri antara lain melalui media sosial. Mengapa personal branding sangat penting? Karena sebelum membranding orang lain atau perusahaan, seorang PR harus dapat membranding dirinya sendiri. Personal branding yang diperlukan, antara lain disiplin, good listener, tekun dan ulet, tidak perhitungan, serta tidak menerima, melakukan atau meneruskan yang salah,’’ terang Linda lagi.

Tantangan PR pada masa yang akan datang juga terbilang sulit, karena PR harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan komitmen dari pihak manajemen. Selain itu, saat ini, peluang bagi fresh graduate untuk bekerja juga sangat besar, namun persaingannya pun semakin ketat, mengingat bahwa ketika memasuki era MEA, akan ada banyak pekerja dari luar negeri yang bekerja di Indonesia. “Banyak-banyaklah bergabung dengan komunitas yang disukai. PR harus peka dan daya analisanya juga harus kuat,” begitulah tips dari Linda kepada mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi angkatan 2015 Universitas Al Azhar Indonesia. Sementara dari peminatan Branding and Advertising, hadir sebagai pembicara Najib M. Rasyid, S.Ikom, Creative Group Head di One Integra Group Asia.

Pada 2008-2015, Najib juga sempat bekerja di Fortune Indonesia sebagai copy writer, senior copy writer, dan creative group head. Prestasi yang pernah diraih, antara lain 1st place Radio Spot Challenge – OCBC NISP dan 3rd place Mini Film Contest “Say It Creatively” – OCBC NISP, 1 Finalist – Busan Ad Stars pada tahun 2013, 3 Finalist – Pinasthika Creativestifal, 1 Finalist – Citra Pariwara Award. Dan 2 Bronzes – Pinasthika Creativestifal pada tahun 2012. Beliau juga pernah membuat tagline untuk beberapa produk atau perusahaan, antara lain Astra Credit Companies (Baiknya di ACC!) dan Pain Kila (Pain no more).

Menurut Najib, seorang yang bergerak di bidang kreatif pada advertising agency, harus memiliki beberapa kriteria, antara lain never grow old, never stop thinking something new, good art-titude, brave, dan love challenge. “Tidak boleh berhenti bermain, tumbuh dan berkembang, belajar, dan mencoba. Selain itu, jangan pernah takut untuk melakukan sesuatu,” katanya.

Tantangan seorang advertiser sejak dulu hingga sekarang adalah orang-orang membenci iklan. Jadi, bagaimana caranya agar iklan yang dibuat dapat menyita perhatian khalayak sehingga menimbulkan income bagi perusahaan yang diiklankan. Untuk menjawab semua keraguan mahasiswa akan peminatan yang diambil, para narasumber meyakini bahwa “Cara terbaik untuk memilih adalah bertanya pada orang tua,” kata Tubagus.

Menurut Linda, “Apapun pilihan kalian, yang terpenting adalah bekerja dengan passion. Kalian beruntung karena komunikasi adalah bidang yang tidak tergantikan oleh mesin.” Sedangkan, menurut Najib, “Do what you love. Pekerjaan yang paling enak adalah hobby yang dibayar”. Begitulah diskusi berlangsung selama kurang lebih 2 jam dengan penuh antusias dari mahasiswa. Semoga dengan adanya diskusi ini, mahasiswa 2015 prodi Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia dapat menentukan pilihan tanpa ada keraguan lagi. (vania gisela)