Tepat hari ini, di siang hari yang terasa begitu merengguk tubuhku. Hujan membuat segalanya berubah. Ku lihat langit di siang hari ini ditutupi oleh sederet air yang mendesak menjatuhi bumi, seperti hati ini yang sedang tertutupi segala kegelisahan. Mengapa manusia selalu merasa gelisah dengan segala hal yang bahkan mereka tidak tahu akan terjadi?

Aku ingin bertanya kepadamu, apa yang membuat seseorang jatuh cinta? Ah kamu terlalu lama menjawab, jadi biarkan aku saja yang menjawabnya. Aku mencitai lelaki itu dengan segala bentuk perhatiannya. Aku jatuh dalam kasihnya. Dalam segala perbuatan nya yang terlalu manis kepadaku. Tapi tepat hari ini, seakan semuanya berubah, merenggut segala hal manis yang sudah tumbuh dalam kebiasaanku. Seolah semuanya sudah selesai. Lelaki yang kucintai hanyalah tinggal sosok bayangnya saja. Apa yang terjadi?

Hujan, bolehkah aku bertanya kepadamu? Mengapa kamu ingin sekali membasahi bumi ini? Apa yang kamu rasakan di atas sana? Hingga akhirnya kau memilih untuk turun dan membuat semuanya terasa lebih dingin?

Hujan tidak pernah merasa kesal dengan semua orang yang selalu mengutuknya. Bahkan, hujan pun tidak pernah menyumpahi orang lain. Wahai manusia, apa yang salah dari turunnya hujan? Mengapa kamu selalu memaki bahkan membencinya? Hujan buatku mungkin tak sama dengan yang lain. Aku menyukai hujan. Aku pernah mempunyai kenangan manis di saat hujan turun, bersamanya. Kita pernah bersendagurau kala dimana hujan turun. Nikmatnya kenangan itu. Indahnya kenangan itu. Dan hujan lah yang mengingatkan ku akan hal itu, mengingatkan ku akan dirinya.

Kamu tahu, aku sungguh mencintai dirinya. Sungguh, aku benar-benar mencintainya. Tapi seelok itu kah cinta? Terkadang terasa sangat berarti namun kadang membuatmu sangat jatuh sakit. Hujan, aku sama sekali tidak menyalahimu untuk jatuh siang hari ini. Aku justru ingin berterima kasih kepadamu. Terima kasih, Hujan, kamu telah membawa sepercik kenanganku bersamanya, hari ini.

Writer: Nur Syifa Buchis | Editor: Sasya Semitari & Galih Perdana