Ketika terjun ke dunia kerja, apa yang ada dalam pikiran sahabat deCODE? Lelah, lembur, pulang larut setiap hari, bahkan tidak punya waktu libur pasti salah satunya. Mungkin hal itu yang banyak dialami oleh para pekerja di Indonesia, tapi kira-kira kenapa ya beberapa sistem kerja di Indonesia bisa seperti itu?

Wahyu Ichwandardi, atau yang lebih dikenal dengan “pinot” adalah animator terkenal Indonesia yang bekerja pada sebuah agensi digital bernama VaynerMedia di Amerika Serikat. Ia yang cukup terkenal dengan karya-karyanya di media sosial pun berbagi kisah mengenai asyiknya bekerja di digital agency Amerika Serikat.

“Kerja di digital agency NYC ini semua serba cepat, bergegas, dan dinamis. Tapi karena management-nya rapi dan efisien, jarang ada lemburan dan tetap bisa punya waktu santai,” ungkapnya di salah satu tweetnya, dengan username @pinotski ini.

Alasan mengapa sistem kerja di New York terkesan serba cepat menurutnya adalah karena jam kerja yang strict, anggota tim yang menguasai bidang kerjanya, dan juga semua project ada track waktunya. “Lalu gimana kalo ada kerjaan mepet dan revisi dadakan? Pastinya bakal overtime, lembur, dan kerja pas weekend. Tapi ya itu, ada mekanismenya, semua harus tercatat. Dan ada anggaran khusus yang dibebankan ke klien. Jumlahnya cukup besar,” lanjutnya.

Ia pun mengungkapkan bahwa hal tersebut diputuskan setelah diskusi dengan anggota tim. Bahkan, pekerjaan tersebut bisa saja diselesaikan lebih cepat esok paginya tanpa harus lembur. “Semua pro aktif menentukan dan memutuskan lembur atau tidak,” ungkapnya.

Agensinya sangatlah strict dalam menentukan hal ini karena menurut mereka, karyawan mutlak harus memiliki waktu pribadi di mana mereka dapat beristirahat dan bercengkrama dengan keluarga mereka. Waktu pribadi ini pulalah yang nantinya justru dapat membantu para karyawan untuk mengembangkan karir, skill, dan passion mereka. Dengan sistem ini, karyawan akan terjaga stamina kreativitasnya dan dapat optimal bekerja.

Salah satu bukti nyata dari baiknya sistem kerja seperti ini adalah Pinot sendiri. Dapat dilihat dari hasil karyanya yang semakin hari semakin menarik karena tersedianya waktu luang untuk mencari inspirasi baru. Salah satu karyanya adalah membuat animasi yang terinspirasi dari adegan film Star Wars: The Force Awakens. Ia pun sukses memadupadankan teknologi tanpa menghilangkan ciri khas karya yang ia miliki.

Ciri khas dari animasi pendeknya adalah penggabungan antara medium kertas dan lingkungan di sekitarnya. Melalui teknik stop motion, animasi tangan darinya seperti hidup dari frame ke frame dan tidak lagi dua dimensi karena berpadu dengan obyek sekitar. Ia pun kerap mengunggah hasil karyanya ke Instagram, Twitter, Steller, Snapchat, dan juga Vine yang menjadi andalannya. Tentunya banyak apresiasi dan pujian yang ia dapatkan dari hasil karyanya tersebut.

Bahkan, sebelum bergabung dengan Agensi di New York tersebut, Pinot sudah berhasil mendapatkan pengakuan internasional atas karya-karyanya, lho. Diantaranya adalah  pemenang untuk kategori animasi dalam Fast Film Fest tahun 2013 dan mendapatkan penghargaan lewat kategori Vineography di ajang Shorty Awards tahun 2014.

Nah, buat para karyawan yang bekerja di Jakarta, tentunya memiliki waktu luang seperti yang diterapkan di perusahaan Amerika ini cukup sulit. Mengingat waktu kita juga termakan cukup banyak di jalan karena macetnya Jakarta. Tapi sahabat deCODE tidak perlu khawatir karena Pinot juga memberikan solusi dan tips bagi warga Jakarta.

“Jujur gue akui, kemacetan Jakarta itu challenging banget. Apalagi kalo udah pake emosi hahahaha. Tapi kalo batere kita masih 30% saat pulang kantor, dalam macet pun bisa nemu inspirasi, menjaga batere berkurang dikit sekitar 25% saat sampai rumah,” ungkapnya di twitter.

“Makin lama makin improve, sampai rumah bisa 40%, masih seger bisa ngapa-ngapain. I know your mileage may vary, tapi at least ini yang gue lakukan saat di Jakarta. Menjaga batere ngga lowbat saat punya waktu untuk pribadi,” lanjutnya.

Menurutnya, dengan jumlah persentase baterai energi yang cukup, tentunya kita masih sanggup untuk melihat inspirasi & mensyukuri mukjizat di sekitar kita.

Reporter: Safa | Editor: Galih Perdana