Gertakan itu terjadi lagi, dia meninjuku dengan ribuan sumpahnya.

Hentakan itu mendekat lagi, dia menodongku dengan janjinya.

Gebrakan itu terulang lagi, dia menamparku dengan ciumannya.

 

 

Aku

Tau

Kau

Darimana

 

Kemarin ku asah pisau daging yang selalu kupakai untuk memasak sup agar perut rakusmu terisi dengan nutrisi.

Nutrisi untuk membuatmu berkunjung ke rumah perempuan itu, kemudian pulang dengan membawa kebohongan untukku. Kau fikir aku tak tahu?

Pisauku mengkilat. Senyumku tercermin cantik disana.

Kau mengetuk pintu lagi, mendobraknya.

Aku sedikit tenang.

Tak lagi kudengar janji-janjimu, mereka sudah membusuk bersamaan dengan mayatmu diatas nisan dari pisau dapurku.

 

Sajak oleh Sinta Nur Amalia, 2017