There’s a large part of our lives that we call normalcy. Makan, tidur, mandi, berjalan, tertawa, belajar. Things we do repeatedly that somehow become “a part of our life”. Sebuah kondisi atau situasi yang sudah normal dilakukan menurut perspektif masing-masing pribadi. Hal ini dapat berupa apa saja. Seringkali menjadi kebiasaan, atau bahkan merangkap menjadi hobi. Bagi saya ia adalah membaca. Membaca buku terutama.

“Reading forces us to be quiet in a world that no longer makes place for that”.

Salah satu penulis best-seller, John Green pernah berkata demikian. Dengan membaca ada ketenangan. Dengan membaca manusia dapat memahami bahwa diam adalah sebuah perjalanan luar biasa tentang belajar dan memahami. Belajar memahami sesuatu, belajar memahami perilaku, atau apapun itu yang kita pelajari dalam diam.

Dalam diam kita membaca. Diam terpaku pada kata-kata yang dirangkai penulis, ikut terhanyut pada alunan kalimat, ikut terharu biru pada kesedihan yang tersirat, ikut terhibur, ikut tertawa bahkan ikut terbawa. Semua dilakukan disaat kita diam. Mencoba diam membaca, untuk memahami.

Membaca sangat sering dijadikan media pembelajaran, tapi ada kalanya membaca tidak membutuhkan tujuan apa-apa. Sama halnya disaat kita membaca puisi. Tidak perlu pretensi apa-apa. Dalam diam saya senang membaca puisi. Pilihan puisi saya kali ini jatuh pada kumpulan puisi karya Rezika Afrinawinata berjudul Secret Thoughts.

Secretly Admiring Rezika Afrinawinata’s Secret Thoughts

Foto oleh Galih Perdana

Secret Thoughts adalah sebuah kumpulan puisi dan sajak berbahasa inggris penuh. Isinya dibagi 3 bagian/part. Part pertama berjudul In Bloom, part kedua berjudul The Wilting Of, dan ditutup oleh part ketiga yaitu Regrowth.

Ketiga part dalam buku ini layaknya seperti tahapan mekarnya bunga, yang dapat diibaratkan dengan perasaan. Bunga-bunga perasaan dari awal bermekaran, jatuh cinta (In Bloom), kemudian kadang bila tak dirawat dengan baik akan sampai pada tahap kelayuan (The Wilting Of), perasaan yang meragu dan melayu. Tapi layaknya tumbuhan, perasaan dapat pula tumbuh kembali, bersemi kembali (Regrowth). Begitulah yang menurut saya secara tersirat ingin disampaikan oleh penulis dalam buku ini.

Pada halaman pembuka, Rezika menulis bahwa isi dari Secret Thoughts didedikasikan untuk orang-orang yang menginspirasinya. Bila kita adalah teman atau kerabat dekatnya Rezika, tentu buku ini adalah sebuah buku yang sangat seru dibaca. Namun untuk kita sebagai pembaca yang belum mengenal Rezika, buku ini tetap sangat menarik untuk dibaca.

Dapat menjadi petualangan sendiri mencari dan menebak-nebak untuk siapa sajakah puisi ini dibuat. Apakah untuk tetangga sebelah rumahnya? untuk Gurunya? untuk kamu temannya? atau apakah untuk mereka yang menjadi sejarah cintanya Rezika?

Sekilas Secret Thoughts mengingatkan saya akan karya-karya milik Lang Leav. Mari ambil contoh bukunya yang berjudul Memories. Sebuah kumpulan puisi yang tiap halamannya memiliki judul akan bait-bait yang dilantunkannya.

Sayangnya, kehikmatan membaca puisi-puisi ini harus berhenti pada halaman 71. Karena disanalah Secret Thoughts mengakhiri perjalananannya. Tutup buku. Bagi saya, mungkin bila buku ini dapat lebih tebal sedikit, karya Rezika Afrinawinanta ini mampu disandingkan dengan karya-karya Lang Leav.

Dalam akun Instagramnya, Rezika menerangkan bahwa Secret Thoughts tidak dapat ditemukan di toko buku manapun dikarenakan penerbitnya bukanlah sebuah penerbit besar. Kalian dapat memesan langsung melalui penerbitnya (Line:@ellunar) atau melalui sang penulis (Instagram @rezikaaw), maka setelahnya Rezika dan kesederhanaan kata-katanya akan dapat kalian nikmati.

Secretly Admiring Rezika Afrinawinata’s Secret Thoughts

Foto oleh Galih Perdana

Ada sebuah passage dalam chapter The Letter I Have Written yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di kepala saya. Menjadi favorit saya dibanding chapter-chapter yang lain. Bait yang dalam akan makna keteguhan dan penerimaan.

Puisi ini ditulis Rezika terinspirasi akan ulang tahun kakeknya, yang sangat berarti baginya. Pembawaan kata ditulis sangat tulus, menjadikannya seperti sebuah aksara penuh lara.

Dengan usia yang masih belia, Rezika mampu menggabungkan semua kata-kata dikepalanya menjadi sebuah kata-kata yang tak beristirahat. Menuangkan perasaan-perasaan dalam bentuk tulisan yang menjadi sebuah karya sastra. Secret Thoughts adalah sebuah batu loncatan. Awal perjalanan bagi Rezika untuk melanjutkan karirnya dalam menulis.

And now I am going to leave you with this little passage of poetry from Secret Thoughts that I will forever admired.

For years, I have idolized you,

Seeing no wrong in what you do.

You’ve taught me more

That what I have learned in school,

of kindness and forgiveness,

blanketed in little jokes

and tales I’ll never quit forget.
For years, I have idolized you,

and now when I can finally

look into your eyes,

being as close into equals as I’ll ever be,

I can see your efforts to hide

the vulnerability and fragility,

which makes you more real

than a mere idea. 

Written by Galih Perdana | Editor: Safa