Legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga membedakannya dengan mite. Menceritakan sebuah dongeng atau legenda menjadi suatu budaya yang sering dilakukan oleh orang tua bahkan guru di sekolah. Dan tidak jarang bahwa legenda-legenda tersebut berakhir tragis, seperti satu di antaranya yaitu legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat di mana di akhir cerita si Malin Kundang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Tragis, bukan? Lalu, bagaimana jika legenda-legenda tersebut ternyata bisa diubah, dihentikan, dan dijadikan menjadi legenda yang berakhir dengan kisah indah? Bagaimana jika ternyata ada tokoh yang menuliskan kisah-kisah legenda tersebut untuk menjadi kisah tragis? Dan bagaimana jika ada tokoh yang bisa menolong untuk memberhentikan tokoh penulis tersebut untuk berhenti menuliskan legenda dengan berakhir tragis?

Semuanya terjawab dalam panggung teater Legenda Balada Baladi yang diperankan oleh anggota teater Delima dari SMAN 85 Jakarta dan anggota Kuaterfilas dari SMAN 112 Jakarta. Teater yang dilaksanakan dalam dua hari dari Sabtu, 25 Maret 2017, pukul 15.00 – 17.00 WIB untuk show 1, dan pukul 19.00 – 21.00 WIB untuk show 2,  serta untuk show 3 dilaksanakan pada hari Minggu, 26 Maret 2017 pukul 15.00 – 17.00 WIB di Gedung Pertunjukan Bulungan, Jakarta, ini berfokus pada sisi tersebut yang sudah diungkapkan di atas.

Pengambilan sudut pandang cerita yang dipilih dari tim produksi, menjadikan teater ini bukan sekedar teater yang memainkan cerita legenda biasa, tetapi berfokus pada sudut pandang pembuatan legenda-legenda yang berakhir tragis dibumbui drama di mana ada tokoh yang berusaha memberentikan serta merubah legenda yang berakhir tragis tersebut menjadi berakhir dengan bahagia.

 

Bukan hanya sudut pandang ceritanya saja yang menarik, tetapi pemain dari teater Delima dan Kuaterfilas serta pemain musik pengiring bisa membawakan ceritanya dengan baik dan cukup menarik perhatian penonton yang menyaksikan teater tersebut. Ditambah dengan nilai plus bahwa semua itu disiapkan dan ditampilkan oleh anak SMA—bukan sekedar penampilan teaternya, tetapi juga dari persiapan pembuatan acaranya yang dinanungi oleh The Someday Project (akan dibahas dalam rilisan berikutnya) yang memberi kesempatan kepada anak-anak SMA tersebut untuk mempersiapkan, memproduksi, serta memainkan dramanya sendiri di panggung teater. For Delima and Kuaterfilas, well done, guys!

 

Sasya Semiatri P