Sudah berapa badai bertengkar dikepalamu ada karenanya, dan aku yang mendamaikannya?
Sudah berapa keluh yang keluar karenanya, dan kupingku yang menjadi tebal?
Sudah berapa senyummu yang hilang karenanya, dan aku yang memunculkannya?
Sudah berapa resahmu yang hadir, dan lagi aku yang menenangkannya?

Kamu tak pernah sadar atau berpura-pura tidak sadar? Apa yang aku lakukan selalu saja tentang kamu.

Melakukan yang selalu untuk kamu membuatku bosan, tidak. Aku tak pernah memikirkan balasan yang mungkin takkan ku terima, atau senyum yang sedari awal bukan untukku. Aku hanya gelisah apakah kamu bertahan karena adanya cinta atau karena sebuah rasa terpaksa. Sampai akhirnya aku menyadari sosok didalam cermin. Aku yang bertahan untukmu.

Entah.
Cinta memang tentang berkorban sampai sebegininya, pengorbanan yang tak pernah memiliki batas dan kadang juga tak pernah berbalas.

Pundakku tak kenal lelah untuk jadi sandaran atas resah dan kegelisahan dirimu yang tak pernah untukku, kamu gelisah dihadapanku, namun kegelisahan yang bukan untukku. Setelah semua aku lakukan, seketika kamu tersenyum kepadaku, tetapi kemudian menyimpan sebagian besar untuk dia.

Jangan salahkan aku terus mendoakanmu bersedih, karena saat itu kamu datang duduk disampingku menceritakan segala bebanmu dipundakku.

Penulis: Zahrany Fairuz Syifa Editor: Zalzabillah Ullyl Albi