Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sepertinya peribahasa itu cocok untuk menggambarkan kegiatan pengabdian masyarakat yang baru saja berlangsung pada 15-17 Agustus 2019 kemarin. Kegiatan pengabdian masyarakat atau bisa disingkat pengmas ini bukanlah kali pertama diselenggarakan, melainkan kegiatan tahunan bagi program studi (prodi) Bioteknologi. Namun yang membedakan pengmas tahun ini dengan tahun sebelumnya adalah bergabungnya prodi Bioteknologi dengan prodi Ilmu Komunikasi yang dinaungi HIMABIO dan KOMIK dalam satu kepanitiaan untuk pertama kalinya.

Pengmas sendiri merupakan serangkaian kegiatan implementasi ilmu serta berinteraksi langsung kepada masyarakat. Pengmas yang terselenggara di Desa Pangumbahan, Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat ini mengusung tema MERDEKA (Make Turtle Save Don’t Keep Them Away).

“Tema ini kami usung karena keinginan kami untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penyu. Dan karena tanggal pelaksanaan pengmas ini bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, kami ingin merayakan HUT RI yang ke-74 ini langsung dengan masyarakat Desa Pangumbahan.” ucap Ravialdy selaku ketua pelaksana pengmas.

Populasi penyu yang kini terancam mengalami kepunahan serta harapan agar masyarakat lebih mengetahui pentingnya peran penyu terhadap ekosistem melatarbelakangi adanya kegiatan pengmas ini. Sebab kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap eksistensi penyu dan karena penyu merupakan salah satu hewan yang harus dilestarikan, juga dilakukan penyuluhan langsung kepada masyarakat dari kalangan anak-anak hingga dewasa.

Penyuluhan ini dilakukan di dua sekolah dasar. Tidak hanya dihadiri oleh murid-muridnya saja, namun juga dihadiri oleh orang tua murid. Panitia mulai dengan memberi gambaran awal mengenai penyu beserta peranannya terhadap ekosistem, lalu pertanyaan mengenai pernah atau tidaknya memakan telur penyu, hingga memberikan penjelasan mengenai apa yang terkandung dalam telur penyu.

Setelah berkomunikasi langsung dengan masyarakat, terbukti bahwa penyuluhan mengenai penyu memang perlu dilakukan. Karena menurut pengakuan dari murid-murid SD tersebut, hampir semua dari mereka pernah memakan telur penyu. Fakta tersebut tidak terlalu mengejutkan karena mempertimbangkan bahwa Desa Pangumbahan berada di pesisir pantai yang pantainya sering menjadi tempat bertelur para penyu, terutama Penyu Hijau.

Tetapi berdasarkan pengakuan dari Pak Ujang yang merupakan salah satu penanggung jawab Desa Pangumbahan, kehadiran konservasi penyu di desa tersebut yang saat ini berada di bawah naungan Provinsi Jawa Barat telah mengurangi jumlah penjualan dan konsumsi ilegal telur penyu oleh masyarakat. Meski begitu, tetap saja ada masyarakat “nakal” yang masih mengambil telur penyu untuk diperjualbelikan ataupun dikonsumsi secara pribadi saat ada kesempatan.

Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya peran penyu dalam ekosistem dan apa yang terjadi jika penyu benar-benar punah. Selain itu, mereka juga tidak tahu apa saja yang terkandung dalam telur penyu yang akan berdampak buruk pada kesehatan manusia.

Seperti yang diungkapkan oleh Pak Beben, salah satu pengurus dan pengkarantina penyu di Konservasi Penyu Desa Pangumbahan, pada telur penyu terdapat kandungan tinggi kolestrol, biotoksin, logam berat, bahkan amuba dalam jumlah yang sangat tinggi. Dampaknya bagi kesehatan bisa menyebabkan impotensi, keracunan, kerusakan lambung, liver, merusak sistem hormon endokrin, syaraf otak, kanker, kelumpuhan, dan lain sebagainya.

Kemudian seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa tema MERDEKA dipilih juga karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, panitia pengmas MERDEKA pun turut merayakan HUT RI dengan ikut menjadi bagian dari acara 17-an yang diselenggarakan setiap tahun oleh warga Desa Pangumbahan di lapangan Balai Desa. Seperti mengikuti upacara bendera, menyelenggarakan lomba, dan memberikan donasi untuk masyarakat sekitar.

Melalui kegiatan ini, selain berharap bahwa kepedulian masyarakat terhadap penyu semakin meningkat hingga dapat menyelamatkan penyu dari kepunahan, Ravialdy menambahkan, “Kami juga berharap relasi kedua himpunan, yaitu HIMABIO dan KOMIK tetap terjalin dengan baik dan kerjasama ini akan terus berlanjut ke depannya.”

Reporter: Vania Ramadhani

Editor : Emir Salim Editor: Zalzabillah Ullyl Albi