Halaman demi halaman aku tulis, bersama kamu.
Sekian lama harusnya kisah ini cukup kamu mengerti atau mestinya cukup dipahami. Namun cinta tak pernah membiarkanya sederhana, pahit dan konflik terkadang sebagai kerikil tajam menuju jurang perpisahan.

Dengan tinta hitam kita ukir selengkung demi selengkung. Beberapa halaman penuh coretan karena amarah yang merana, atau kadang terciprat cemburu yang memburu.
Semuanya kita lanjutkan, karena aku anggap hidup harus terus berlanjut. Dan cinta ini, adalah hidup.
Setidaknya bagiku, aku sudah meninggalkan halaman usang.

Aku berpegang sampai rasanya urat nadiku ingin terputus, kamu yang aku sayang. Setidaknya sampai rasa itu hilang.
Entah terjadi atau tidak, ah, jika iya rasanya begitu malang.

Aku mencintamu dengan terlanjur. Tidak sepertimu, yang mencintaiku hanya sebatas penenang dikala sepimu. Lalu, kamu bosan menggores halaman belakang dan kamu memilih untuk berpindah pada halaman baru, yang menurutmu tidak akan membosankan.
Kamu mulai menggores halaman baru dengan pena hitam lalu merobek halaman lama dan lantas lempar ke tempat sampah.

Ya, hidup harus terus berlanjut…

Ada seorang bijak pernah berkata bahwa kadang kita tak bisa bersama dengan yang dicinta.
Aku berkali-kali bertemu dengan orang yang harus merelakan cintanya dan menerima cukup yang ada.
Merelakan yang telah pergi, sedang batin dan raga menjerit berusaha meraih hadirnya.
Kondisi yang beberapa orang coba jalani selama hidupnya.

Malang sekali bukan? Semoga itu bukan kamu.

Penulis: Zahrany Fairuz Syifa Editor: Nur Syifa Buchis