DC kembali memanjakan para penonton setianya dengan merilis film anti-hero yaitu film Joker. Nama Joker sendiri sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat film DC. Musuh utama Batman ini telah berhasil mengambil simpati para penonton dengan dihadirkannya film solo mengenai dirinya. Film yang digarap rumah produksi Warner Bros Pictures dan disutradarai Todd Phillips ini telah rilis di Indonesia sejak tanggal 2 Oktober 2019.

Sumber : comicbook.com

            Film ini mengisahkan kehidupan awal Joker yang merupakan seorang pria yang memiliki nama asli Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang bekerja sebagai badut. Fleck memiliki keinginan menjadi stand up comedy yang sukses seperti idolanya yaitu Franklin (Robert De Niro). Dalam menjalani kehidupannya Fleck selalu mendapatkan ketidakadilan. Fleck juga mengidap sakit mental yang menyebabkan dirinya tidak dapat mengontrol tawa sampai terbahak-bahak tanpa henti. Awalnya Fleck adalah pria yang baik hati, murah tersenyum, dan bahkan selalu mencoba menghibur orang lain agar merasa senang setiap saat. Namun, pada akhirnya dia berubah menjadi seorang penjahat yang sangat keji.

            Film ini dapat diberi acungan jempol karena alur cerita yang menarik. Selain alur yang menarik, setiap adegan yang dilakukan dalam film juga berhasil membuat penonton bergedik ngeri. Film ini tidak cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak karena memungkinkan terjadinya suatu hal yang tidak diinginkan. Mungkin bukan sekarang, tapi beberapa tahun ke depan saat mereka dewasa, siapa yang tahu?

Sumber : comicbook.com

            “Menurut aku film itu tergantung kita ngeliat dari sudut pandang mana, kalau diambil dari sudut positif film itu ngajarin kita untuk selalu berbuat baik sama setiap orang, karena kita nggak tau apa yang udah mereka lewatin,” kata Suhaila, seorang mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia ketika ditanya pendapat mengenai film Joker.

            Dalam film ini terdapat pelajaran yang dapat kita ambil, seperti mencoba untuk bersikap baik kepada orang lain, saling menghargai, tidak mengolok-olok dan melakukan bullying kepada sesama. Karena perbuatan yang kita lakukan kepada orang lain tanpa sadar akan menimbulkan efek kepada diri kita dan juga orang lain.

            “Untuk filmnya sendiri saya kurang terlalu suka, karena sangat banyak adegan kekerasan sehingga kehilangan enjoy pada saat nonton filmnya, tapi pemeran utamanya memerankan dengan sangat baik sehingga ada perasaan amazed saat menonton,” kata Suhaila lagi.

Penulis: Siti Masitoh Editor: Emir Salim