May 20, 2024

deCODE

Progressive News & Creative Magazine

Menyelami Sejarah di Museum Taman Prasasti

3 min read
Menyelami Sejarah di Museum Taman Prasasti

Foto: Ken Akbar W

Ketika kalian membayangkan kuburan, nisan, atau prasasti pasti yang terbayang di benak kalian adalah  hal-hal yang berbau mistis, kan? Nah, lain halnya dengan tempat yang satu ini. Tempat ini bisa mengubah pikiran liar kalian tentang image dari kuburan, nisan, dan prasasti itu sendiri menjadi sebuah tempat yang mengundang decak kagum bagi sahabat deCODE. Dia adalah Museum Taman Prasasti.

Dahulunya, Museum Taman Prasasti ini merupakan area pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober yang didirikan pada 1975. Tujuannya untuk menggantikan pemakaman di samping gereja bernama Nieuwe Hollandsche Kerk (sekarang Museum Wayang) yang mulai penuh akibat munculnya wabah penyakit. Secara desain tata kota, pemilihan area pemakaman yang jauh dari kepadatan penduduk saat itu dinilai lebih baik. Maka dari itu, dipilihlah tempat ini.

Percaya deh, pasti first impression yang kalian dapatkan ketika masuk pertama kali di museum ini adalah menakjubkan. Kenapa? karena kita semua tahu bahwa sebelumnya tempat ini adalah pemakaman umum, namun sekarang berhasil disulap menjadi museum yang indah.

Ketika masuk kedalam museum ini, kalian akan disambut oleh sebuah tempat terbuka yang memamerkan sebuah replika kereta jenazah. Konon katanya, dulunya kereta itu sering digunakan untuk mengangkut jenazah.

Sebelum kalian melangkah lebih jauh lagi, sebaiknya kalian melihat papan informasi singkat mengenai nisan dan prasasti tokoh penting yang berada disana. Seperti, pendiri sekolah dokter di masa Hindia Belanda, School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) yang bernama Dr. H.F. Roll. Selain itu, ada juga nisan Elisabeth Adriane Roseboom yang dahulu mendirikan Sekolah Santa Maria.

Di sudut lain, terdapat sesuatu yang menarik untuk kalian lihat. Yaitu, ada dua buah peti jenazah yang disimpan dalam kotak mika transparan. Kedua peti jenazah tersebut pernah digunakan untuk membawa jenazah kedua bapak proklamator bangsa Indonesia, Ir. Soekarno, dan Drs. Mohammad Hatta. Tentu karena keduanya Muslim, peti jenazah ini hanya digunakan untuk membawa jenazah dan tidak ikut dikuburkan. Bung Karno sendiri dimakamkan di kampung halamannya, Blitar, sementara Bung Hatta dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Jadi, walaupun dahulunya Museum Taman Prasasti merupakan pemakaman umum, saat ini sudah dapat dipastikan tidak terdapat lagi jenazah-jenazah yang disemayamkan di sini. Seluruhnya telah dipindahkan dan disebar ke berbagai pemakaman lain yang ada di Jakarta. Sayangnya, banyak kerusakan yang terjadi pada museum ini akibat usia dan cuaca. Selain itu, banyak pula goresan vandalisme dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab pada nisan dan prasasti. Tentunya dapat mengurangi keindahan dari nisan dan prasasti tersebut.

Bagi kalian yang tidak tertarik untuk menyelami sejarah-sejarah pada museum ini, ada kegiatan lain yang dapat kalian lakukan, yaitu hunting foto dengan background prasasti atau nisan yang ada di museum. Sering ditemui banyak pasangan yang melakukan photoshoot untuk agenda prewedding mereka. Banyak pemuda dan pemudi yang datang ke museum ini untuk sekadar menikmati liburan dan memenuhi kebutuhan feeds Instagram.

Sahabat deCODE yang ingin berkunjung kesini, wajib banget buat catat alamat, jam operasional serta harga tiket masuk di bawah ini.

Museum Taman Prasasti
 Jalan Tanah Abang I No. 1 Jakarta Pusat

Jam Buka : Selasa-Minggu 09.00-15.00, Senin dan hari libur nasional TUTUP

Tiket Masuk
 Dewasa IDR 5K
 Mahasiswa IDR 3K
 Pelajar IDR 2K

Reporter: Ken Akbar W. | Editor: Nadhira Aliya & Galih Perdana

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.