Webinar ini berlangsung pada hari sabtu 30 Oktober 2021, dari pukul 12.30 hingga 15.00. Acara diselenggarakan oleh kampus Universitas Al Azhar Indonesia bertemakan ” Mengenal Cyber bullying dan Kesehatan Mental Milenial”, mendatangkan dua narasumber. Soraya, S.Sos. M.Si. selaku dosen ilmu komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia dan Aksa Saragih selaku anggota dari komunitas Into The Light Indonesia.

Soraya mengungkapkan bahwa bullying merupakan suatu aksi menyakiti secara fisik, verbal, dan psikologis. Korban bullying merupakan mereka yang secara fisik mampu dilemahkan oleh pelaku, tidak mampu berinteraksi dengan pelaku dan cacat fisik. “Bullying itu sesuatu yang bisa mengenai siapa saja” ungkap Soraya, karena aksi bully ini tidak hanya di sekolah, tetapi bisa  terjadi juga di lingkungan pekerjaan. Korban bullying bisa menjadi pelaku pada kasus berikutnya, “perilaku bullying seperti virus yang menular.” ungkap soraya dalam memaparkan materi bullying.

Semakin berkembangnya teknologi, bullying bisa dilakukan dengan berbagai cara melalui media digital. Oleh karena itu, terjadilah yang namanya cyberbullying, yaitu aksi bully yang dilakukan di media digital. Akibat dari bullying ada tiga, yaitu: 

  1. Fight = melawan yang ditunjukkan dengan rasa marah dengan mengamuk
  2. Flight = melarikan diri ke arah negatif
  3. Freeze = sikap membeku yang didalamnya termasuk depresi

Aksa Saragih selaku pembicara kedua mengungkapkan bahwa pengertian cyberbullying adalah sesuatu yang subjektif. “Cyberbullying itu ketika temen-temen sudah merasa tidak nyaman atas perilaku seseorang.” ungkap Aksa. Menurutnya, bullying dibagi menjadi 2 yaitu, traditional bullying dan cyberbullying. Traditional bullying adalah bullying yang terjadi secara langsung, sedangkan cyberbullying adalah bullying yang terjadi pada dunia maya. “Cyberbullying bersifat anonymity: Kita tidak tahu siapa yang ada di belakang layar siapa, jadi kita susah untuk menghindarinya. Kemudian, cyberbullying juga bisa terjadi kapan saja, bisa terjadi lewat beberapa media (video game, sosial media, dll), bisa dilihat oleh banyak orang sehingga mudah diviralkan.” Ungkap Aksa Saragih dalam memaparkan materinya mengenai cyberbullying. 

Kasus bullying ini sudah banyak memakan korban, terutama pada anak remaja 13-17 tahun. Cyberbullying memiliki korelasi lebih kuat dengan pemikiran bunuh diri dibanding traditional bullying (Van Geel, et al; 2014). Salah satu fakta menarik yang diungkapkan oleh Aksa Saragih mengenai pelaku bullying, sebenarnya pelaku bullying sendiri memiliki kondisi mental yang tidak sehat. Oleh karena itu, untuk menghindari fenomena bully ini bisa dengan cara mengintervensi langsung pada pelaku.

Aksi cyberbullying ini bisa dicegah dengan beberapa cara, diantaranya yaitu: meminta bantuan dengan pihak-pihak tertentu, tidak merespon ketika dihina, tidak menyebarkan password akun sosial media, dan identifikasi siapa pelakunya. Hal ini juga mengungkapkan apa yang harus dilakukan ketika kita menemukan teman yang mempunyai pikiran untuk bunuh diri dengan cara menanyakan kabar mereka, beri mereka ruang untuk bercerita dan mengajak mereka membawa hal positif, serta mendorong mereka untuk segera mendatangi profesional (psikolog/psikiater) agar segera ditangani. 

lihat di selengkapnya di youtube : https://www.youtube.com/watch?v=2u-J4bqPfmg dan https://www.youtube.com/watch?v=2u-J4bqPfmg

Yuk! Jauhi perilaku bullying, sesuai dengan perintah Allah dari al-quran surah Al-Hujurat ayat 11 “Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Penulis: Wifda Mufti Karima Editor: Bintang Bellatrix