Setelah workhsop Radio Sabtu (25/11) lalu, COMRADE  (Communication Media Sharing and Development) Batch 2 Prodi Ilkom berlanjut. Giliran peserta yang berminat di bidang penyiaran TV mendapat pembekalan.

Workshop CTV (Communication Television)  Sabtu, 2 Desember 2017 dilangsungkan di Lab TV Basement 1 Kampus UAI, sejak pukul 09.00 WIB. Acara ini melibatkan 17 peserta dari 30 peserta yang telah mendaftar. Sayang sih, nggak pada datang.

”Banyak yang berhalangan. Tak apa-apa, kita jalan terus. Makin mudah seleksinya,” kata Viand Isword, Pjs. Kepala Lab dan pengajar Radio di Prodi Ilkom.

Sejauh ini, peserta didominasi  mahasiswa dari program studi Ilmu Komunikasi. Peserta lainnya, berasal  prodi lain seperti dari Fakultas Hukum dan  Teknik Informatika.

Materi pertama, tentang bagaimana cara membuat program serta membuat konten yang baik di televisi disampaikan Rajiman, alumni Broadcasting and New Media Prodi Ilkom yang akrab dipanggil  Maman. Saat ini, Maman bekerja sebagai camerman di MNCTV Group.

Dalam workhsop ini,Bang Maman memberikan beberapa contoh program televisi mana saja  yang baik.  ”Penonton televisi Indonesia saat ini kebanyakan adalah masyarakat menengah ke bawah. Itulah mengapa acara di stasiun televisi swasta saat ini mempunyai rating yang tinggi dengan konten acara yang belum tentu baik,” kata Maman.

Seringkali, kata Maman, rating dan kualitas acara menjadi soal yang berbeda. Karena itulah, mahasiswa perlu mengetahui teknis membuat acara yang baik, selain dibekali wawasan untuk melahirkan ide-ide program yang juga baik secara kualitas.

”Idealnya,  rating mengikuti kualitas konten acara dan konten yang baik harus bersifat intelek. Masalahnya, banyak acara yang dinilai berisi, intelek, tidak diikuti dengan minat atau animo dari masyarakat. Dilema ini terus menerus terjadi,” kata Maman. Sehingga diakuinya, banyak program  televisi di Indonesia kurang bermutu demi mendapatkan rating yang tinggi semata.

Praktik pengenalan fitur kamera dan tatacara dasar pengambilan gambar standar televisi. (foto: dok Comrade)

Materi kedua, disampaikan Bang Hafiz, juga alumni Broadcasting and New Nedia Prodi Ilkom UAI (2003) dan kini, cameraman senior di MNCTV. Bang Hafiz memberikan seminar tentang pengenalan alat-alat serta seperti apa penggunaannya.

Setelah mengenal alat-alat broadcasting, peserta COMRADE CTV langsung  praktik  di bawah bimbingan Maman  dan  Hafiz. Peserta dibagi menjadi 2 kelompok, dengan pembagian kerja ada yang menjadi cameraman, produser dan talent. Peserta ditugaskan  melakukan liputan di sekitar Masjid Agung Al Azhar, mewawancarai masyarakat sekitar tentang keadaan sosial budaya sekitar masjid dan penggunaan Aula Buya Hamka yang berada di bawah masjid.

Setelah melakukan liputan, peserta melanjutkan kegiatan di ruang Lab Desain Grafis untuk melakukan video editing. Peserta juga diajarkan bagaimana mengedit video yang baik agar layak tayang di televisi.

Kegiatan selanjutnya adalah menampilkan hasil video yang telah dibuat peserta dan membuat program acara berupa talkshow. Semua peran seperti produser, cameraman dan talent sama-sama belajar bagaimana memproduksi sebuah acara. COMRADE CTV  diakhiri  pesan-pesan yang disampaikan  pembicara.

”Saya minta, ke depan, kalian terus praktik. Buatlah program-program televisi tiap minggu yang di fasilitasi oleh kampus. Itu akan sangat membantu meningkatkan kemampan kalian, sehingga saat terjun ke dunia kerja, jadi lebih ringan,” kata Bang Hafiz.

Dengan mengikuti workhsop, peserta resmi menjadi anggota CTV Universitas Al Azhar Indonesia. Muhammad Fauzan Agithama, Ketua Panitia COMRADE Batch 2 berharap,  jumlah anggota yang telah diinkubasi dan mengikuti seminar dengan baik, sama dengan jumlah anggota ke depannya.

”Kami berharap, semua peserta tetap menjaga semangat. Kita wujudkan, TV UAI yang berisi konten-konten berkualitas dan bermanfaat bagi siapa saja,” kata Fauzan.

”Sabtu depan, kita akan lanjutkan dengan workhsop terakhir. Yakni liputan dan penulisan untuk majalah cetak dan media online. Doakan lancar dan seru terus,” kata Ojan, panggilan Fauzan kepada deCODE.

Reporter: Shinta Aulya | Editor: Galih Perdana