Jumat, 22 Desember 2017. Banyak orang mengirimkan ucapan hari ibu, bertabur puisi dan penghormatan atas jasa seorang ibu. Semua ibu. Tapi di saat yang sama, ratusan mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) UAI berunjuk rasa.

Unjuk rasa ini, buntut dari kasus pengunduran diri mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) 2017 Miki Rohmawati karena masalah tato. Beberapa hari sebelumnya, perwakilan mahasiswa Ilkom dan bahkan FISIP, melalui KOMIK dan KMFISIP, sebenarnya sudah melakukan audiensi untuk meminta penjelasan Pusat Pembinaan Pengendalian Pengawasan Etika dan Keamanan (P3EK) dan Wakil Rektor III (antara lain menangani Bidang Kemahasiswaan).

‘’Tapi menurut kami, penjelasan kasus Miki tidak memuaskan. Makanya, kami menyampaikan aspirasi melalui aksi massa hari ini,’’ kata Zainal, Ketua Komik. Hal yang sama, juga disampaikan Noval, Wakil Ketua KMFISIP.

Uniknya, di tengah aksi di halaman Lobby Kampus UAI, di bagian dalam lobby Paduan Suara UAI (Rascho) juga menggelar konser mini. Lagu-lagu indah dan suara orasi di halaman lobby pun bersahutan.

Tapi, baik konser maupun aksi berjalan sebagaimana adanya. Dimulai sekitar pukul 09.45 WIB, solidaritas untuk Miki ini diwarnai orasi, yel-yel dan nyanyian. Meski sudah mendengar kabar hasil audiensi yang antara lain menyebutkan bahwa pihak Miki mengundurkan diri secara sukarela, para mahasiswa tidak puas. Penjelasan bahwa pihak Miki menerima dengan ikhlas aturan universitas, juga tidak mengubah pandangan para peserta aksi.

‘’Tidak adil. Apakah tato kriminal? Apakah Miki tidak berhak berubah di kampus ini? Mengapa tidak dilakukan pemeriksaan kepada semua mahasiswa yang hendak kuliah ke sini, supaya tidak terlanjur kuliah? Lagipula, Miki memperlihatkan niat baik dan tidak memperlihatkan tatonya?’’

Demikian antara lain suara-suara yang disampaikan mahasiswa, baik saat orasi maupun dalam teriakan-teriakan di tengah massa. Intinya, pada aksi tersebut, para mahasiswa terus mempertahankan dan berharap besar bahwa agar Miki tetap bisa kuliah di kampus UAI. “Islam itu mengajarkan untuk menuntun, bukan untuk melepaskan!” teriak salah satu mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya.

Tak lama, perwakilan mahasiswa diminta untuk diskusi dan mendengarkan penjelasan para pimpinan maupun P3EK. Diskusi berlangsung di Ruang CIMB Niaga Lantai 2. Dalam forum tersebut, tampak pihak P3EK (Pak Dr. Suhaimi, Pak Sarim dan Bu Hanifah), Wakil Rektor 3 (Bu Dr. Nia Noriko), Heri Herdiawanto dari Biro Kemahasiswaan, dan Dr. Irwa R Zarkasih, Dekan FISIP.

Penjelasan cukup panjang. Tentang proses kasus Miki sejak Oktober lalu. Intinya, P3EK sudah melakukan diskusi dan pendekatan dengan Miki dan keluarga berkali-kali terkait pelanggaran aturan bertato. Dinyatakan, pihak Miki dan keluarga sudah mengetahui hanya ada dua opsi, menghapus tato atau mengundurkan diri. Karena secara medis menghapus tato berisiko, maka opsi mengundurkan diri dipilih.

‘’Itu dilakukan secara sukarela,’’ kata perwakilan P3EK.

Mantan Ketua KMFISIP, Shendy, mengkonfirmasi kabar bahwa uang perkuliahan Miki selama di UAI akan dikembalikan sebanyak 50 persen. Hal tersebut, direspons baik pemimpin forum diskusi. “Pengembalian uang akan kami jalankan. Sebenarnya secara aturan, tidak ada pengembalian uang. Tetapi, UAI akan diberikan. Bahkan ada simpati kami kepada Miki,” jelas Nita Noriko.

“Di alam semesta ini, tentunya ada regulasi dan juga cara berpikir yang sistematis ilmiah dan logika. Ketika kita sudah menjalankan itu, maka kita tidak akan banyak berdebat. Karena kalau berdebat terus tidak akan selesai-selesai. Saya sebagai Wakil Rektor 3 ingin mengajak kalian untuk berfikir jernih dan logis,” lanjut Bu Nita.

Terkait kemahasiswaan, Bu Irwa juga menambahkan, tugas dari biro kemahasiswaan UAI menaungi mahasiswa universitas. Namun, ia berencana menugaskan “satu orang khusus” untuk menjadi biro kemahasiswaan di fakultas. ‘’Jadi, segala keluhan-keluhan yang dialami oleh mahasiswa FISIP bisa disampaikan kepada satu orang terpilih tersebut,’’ katanya.

Forum berlangsung sekitar satu jam, termasuk sekitar 15 menit tanya jawab. Arief Laksono, mantan Ketua Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi (KOMIK) meminta P3EK menjelaskan hasil forum diskusi tersebut kepada para peserta aksi. Tetapi menurut Dekan FISIP, penjelasan sebaiknya diberikan oleh perwakilan mahasiswa.

“Saya bukannya tidak berani untuk keluar, tetapi pasti suasana ketika kami ke sana sudah tidak akan kondusif lagi seperti kita diskusi di sini,” katanya.

Bagi perwakilan mahasiswa, penjelasan tetap tidak memuaskan. Karena menurut mereka, idealnya ada opsi lain, yakni tetap menerima Miki dengan syarat-syarat tertentu. “Kalau mengharapkan Miki tetap bisa kuliah di kampus ini, kemungkinan 97% gak mungkin ya. Tapi kita juga butuh kejelasan dari kampus, Miki itu ke depannya mau bagaimana. Gua merasa kecewa atas kasus ini, karena gue mendengar beberapa dosen ingin mengundurkan diri dari jabatan yang mereka pegang. Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankannya,” ungkap Zainal Aripin, Ketua KOMIK 2017.

Aksi Lanjut Selepas Jumatan

Karena salat Jumat, peserta aksi 22 Desember 2017 membubarkan diri. Tapi para mahasiswi, masih tampak berkelompok duduk di sekitar halaman lobby.

Aksi kembali dimulai pukul 14:00 WIB. Kabar bahwa keputusan tidak bisa diubah, membuat suasana panas. Rata-rata peserta aksi terlihat emosional. Sebagian besar meneteskan air mata. Beberapa menangis tersedu-sedu. Suara kemarahan terdengar di seantero lobby.

Kabar pengunduran diri Edoardo Irfan sebagai Kepala Prodi (Kaprodi), dan dua Sekretaris Prodi (Nanang Haroni dan M.Nasucha) tersiar. Nurul, dari Badan Pengurus Harian KOMIK pun bersama Arief Laksono naik ke lantai 4 untuk meminta konfirmasi dan meminta para pimpinan Fakultas maupun Prodi menenangkan peserta aksi.

Sekitar pukul tiga lewat, tampak Edo, sapaan Kaprodi, tampak keluar lobby bersama Dekan dan para dosen. Histeria terlihat di antara peserta aksi. Di hadapan mahasiswa, kemudian berdiri Rektor Prof Asep Saefudin, Wakil Rektor, P3EK, pimpinan lain dan para dosen. Dipandu Kabiro Kemahasiswaan, Heri, Edo diberi kesempatan bicara.

‘’Saya mengapresiasi penyampaian aspirasi ini. Terimakasih. Tapi mohon maaf, keputusan sudah diambil dan tidak bisa diubah. Saya sendiri mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban. Karena kebetulan, saya sama aspirasinya saat ini dengan kalian. Tapi teman-teman, kalian sudah menyampaikan pesan. Semoga perbaikan-perbaikan lain, tidak hanya dari kasus ini, segera dilakukan. Saya tidak bisa ngomong apa-apa lagi, terimakasih,’’ kata Edo.

Suasana makin riuh rendah. Edo sendiri meninggalkan aksi usai menyampaikan pernyataan. Sementara Sekretaris Prodi Bidang Kemahasiswaan Nanang Haroni tetap di lokasi. Ketika deCODE, menanyakan masalah pengunduran diri, Nanang membenarkan.

‘’Bukan karena aksi kalian. Tapi Mas Edo jauh hari memang sudah menyampaikan keinginan ini. Intinya, Mas Edo ingin bertanggungjawab atas apa yang sudah ia upayakan. Karena tidak bisa mengubah keputusan kampus, beliau memilih jalan untuk mempercayakan jabatan pada yang baru,’’ kata Nanang.

Ia juga mengatakan, Nasucha (Sekretaris Prodi Bidang Kurikulum) dan dirinya memilih jalan yang sama. ‘’Selain saya ikut dalam sebagian proses penyelesaian kasus Miki, saya dan Pak Ucha (Nasucha-red) menilai bahwa kami diminta oleh Kaprodi. Kami tim. Jadi, untuk kebaikan bersama, biarkan timnya baru semua. Tapi semua dibicarakan secara baik, dengan niat baik, dan keinginan menjadikan Ilkom semakin baik pula. Ada perbedaan pandangan, dan hikmahnya banyak. Kami juga sepakat, insya Allah, tidak akan mengurangi peran pendampingan. Saya khususnya, selalu siap jadi teman diskusi mahasiswa, kapan saja. Jabatan datang dan pergi, biasa saja. Itu hanya baju. Kontribusi, keinginan ikhlas, pengabdian, kerendahhatian, itu semua usaha terus menerus. Tidak bisa diklaim. Kita berusaha begitu, dengan atau tanpa jabatan formal. Teman-teman ikhlaskan Miki, kembali seperti sedia kala, dan silakan tetap kritis. Kami insya Allah, tetap ada,’’ kata Nanang, panjang lebar, dengan nada haru.

Menurutnya, kasus Miki adalah pelajaran bagi semua penghuni kampus. Banyak hal perlu diperbaiki. ‘’Akhirnya ini bukan tentang seseorang. Tapi soal bagaimana kita lebih membuka pikiran, membangun komunikasi secara sehat, introspeksi. Saya percaya, Pak Rektor dan Bu Irwa di FISIP sangat concern untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lembaga, mahasiswa dan kita semua.’’

Kembali ke kisah aksi. Tiba saatnya, Pak Rektor bicara. Intinya, beliau menghargai penyampaian aspirasi mahasiswa. Tapi juga meminta semua pihak menerima keputusan yang sudah diambil, karena semua itu sudah melalui proses yang panjang dan fair.

Hanya saja, hingga para pimpinan meninggalkan lokasi, nada kecewa tak kunjung reda. Bu Irwa pun memberi penjelasan panjang lebar dan mencoba membuat mahasiswa memahami proses serta keputusan atas kasus ini. Ada tanya jawab juga. Tapi sepertinya, peserta aksi belum terlihat mau meninggalkan halaman lobby kampus.

Suasananya, seolah sudah tidak nyambung. Penjelasan apapun, bahkan upaya dosen lain, Bu Soraya untuk menenangkan mahasiswa dengan membaca shalawat dan doa penutup, belum membuahkan suasana tenang. Meski demikian, aksi secara perlahan menuju akhir.

Nanang tampak berusaha bicara secara personal dengan sejumlah pengurus KOMIK. Menurut Nabila, salah seorang BPH KOMIK, Nanang meminta ia dan teman-teman membubarkan diri dengan tenang. ‘’Pak Nanang meminta kami menerima, bersabar dan segera menyelesaikan aksi. Tapi saya dan teman-teman malah makin sedih. Karena justru Mas Edo dan Pak Nanang mundur. Padahal kami masih ingin mewujudkan banyak rencana bersama mereka. Selama ini mereka benar-benar membimbing dengan sangat baik dan membuat kami termotivasi belajar lebih giat dalam berorganisasi, selain belajar di kelas,’’ kata Bebe, sapaan Nabila.

“Mas Edo itu open-minded tapi tak segan marah ketika kami terkesan tidak mau berubah lebih baik. Pak Nanang melengkapi dengan memotivasi dan membantu untuk langsung merealisasikan ide-ide,’’ tambah Jupe, diamini anggota BPH lainnya, Vanni Firdaus dan Claresta.

Ketua KOMIK, Zainal, akhirnya kembali mengambil mic. Ia dengan suara lantang meminta adanya perbaikan aturan dan birokrasi.

‘’Aturan harus memihak hati nurani. Pelaksanaan dan birokrasinya diperbaiki. Kami sering kecewa,’’ katanya disambut riuh tepuk tangan.

Air Mata untuk Miki

Ada banyak air mata di hari Jumat (22 Desember 2017). Suasana campur aduk. Bagi para mahasiswa Ilkom, ini adalah pengalaman pertama mereka berkumpul dengan suara satu menyampaikan aspirasi atau berdemonstrasi. Beberapa hari sebelumnya, aksi ini dibulatkan dengan penandatanganan petisi mendukung agar Miki diberi kesempatan melanjutkan kuliah.

‘’Selama gue di sini, inilah pertama kalinya ada aksi. Jadi gue harap, pimpinan kampus mendengarkan suara kami. Menurut kami, ini untuk kebaikan universitas, Ilkom dan kita semua. Wajar kan, menyampaikan aspirasi? Kami akan tetap jaga ketertiban, kok. Tenang aja,’’ kata seorang mahasiswa, kepada deCODE.

Aksi, memasuki tahap akhir dengan adegan yang menguras emosi. Miki dipanggil ke depan dan menyampaikan pernyataan akhir. Ia mengucapkan terimakasih atas semua dukungan, dan meminta doa karena tidak bisa bersama-sama lagi. Suaranya tersendat karena menangis.

‘’Saya sudah capek nangis. Terimakasih sudah menerima saya, teringat terus suasana KOH (KOMIK Out High—Ospeknya anak Ilkom). Saya bahagia menjadi bagian dari kalian meski hanya sebentar. Saya ikhlas, doakan saya,’’ kata Miki disambut tepuk tangan dan jerit histeris.

Ia pun kemudian memanggil beberapa sahabatnya ke depan. Meski tampak tidak kuat, dua orang, di susul lainnya ke depan dan pelukan tak akan bisa dilupakan itu terjadi.  Miki juga kemudian memeluk mahasiswa lain, teman, senior dan dosen-dosen yang masih ada di lokasi.

‘’Saya pribadi minta maaf karena mundur dari tugas struktural. Juga atas kesalahan-kesalahan lain. Tapi ini bukan kiamat. Pesan sudah disampaikan. Pimpinan universitas, FISIP, Prodi dan para dosen pasti akan selalu berpikir dan bertindak terbaik. Kami tetap ada untuk kalian. Miki akan menjalankan hidup dengan pelajaran yang dia ambil dalam waktu singkat di sini, tapi di atas itu semua, saya sendiri, kita semua juga belajar banyak dari dia dan perjalanan kasus ini. Ayolah, kita tetap bergandeng tangan, tumbuh bersama. Kita harus hidup dengan semangat saling memperbaiki, terus menerus karena semua kita tak pernah sempurna. Spirit dari jargon Komunikasi Satu dan FISIP Solid, kita jaga.’’

Demikian pesan Nanang kepada mahasiswa yang disampaikan melalui telepon kepada Pemimpin Redaksi deCODE, Safa. Tak lupa, ia juga menjelaskan bahwa dirinya, juga Mas Edo dan Pak Ucha, tidak pernah berpikir mundur sebagai dosen Ilkom.

‘’Hanya jabatan struktural yang dilepas. Toh tugas dan peran lainnya masih banyak untuk kemajuan kita semua. Ilkom juga punya banyak calon yang lebih kompeten, pasti baik dan keren. Percayalah,’’ katanya.

Dan itulah akhirnya. Tagar #savemiki #wewanthertostay #RIPJustice sudah disampaikan. Tapi peraturan tetaplah peraturan. Kampus sudah menetapkan kebijakan yang harus dijalankan. Penghormatan sudah diberikan atas Miki dan keputusan lembaga. Terbaik, doa bagi Miki di manapun ia kelak meneruskan studi, setelah lima tahun terakhir tidak kuliah sebelumnya akhirnya memilih Ilkom UAI.

Bagaimana Prosesnya?

Pihak P3EK dan Wakil Rektor 3, menjelaskan bahwa pengunduran diri Miki dilakukan secara sukarela oleh yang bersangkutan, disaksikan parapihak, termasuk keluarganya. Prosesnya juga sudah berjalan sejak 13 Oktober 2017, dimulai dari informasi adanya postingan di media sosial yang memperlihatkan Miki bertato di bagian tangan.

Konfirmasi, dialog, dan penyampaian opsi dilakukan P3EK dengan Miki dan walinya, Yanti. Secara formal, Miki memang—sebagaimana mahasiswa lain—menandatangani draft, sebelum resmi membayar uang kuliah yang antara lain menyebutkan bahwa mahasiswa UAI tidak bertato. Konsekuensinya jika ditemukan pelanggaran, menghapus tato atau mundur.

Karena alasan medis, yang dikukuhkan lewat surat dokter, penghapusan tidak bisa dilakukan. Maka pilihannya, Miki mengundurkan diri dengan cara menandatangani surat (form) yang tersedia. Menurut pihak P3EK, keluarga pun sudah menerima konsekuensi ini dengan sukarela.

Tapi surat tersebut, hanya bisa sah jika ditandangani Prodi Ilkom. Masalahnya, Kaprodi tidak bersedia menandatangani karena mendengar pernyataan Miki dan walinya yang merasa kecewa serta sangat ingin tetap menjalani kuliah. Miki, dari sisi usia, harusnya sudah lulus kuliah. Tapi selama ini ia bekerja. Tahun ini, ia dan keluarga memilih UAI dengan harapan mendapatkan bimbingan keagamaan, selain pengetahuan di bidang yang ia sukai.

P3EK mengakui, pertimbangan ini sudah didiskusikan. Mereka juga sangat terharu dan mendukung niat Miki. Tapi diskusi, tetap kembali ke aturan yang sudah ditetapkan, serta opsi yang hanya ada dua. Yakni menghapus, atau secara sukarela mengundurkan diri. Miki sendiri mengakui tahu soal syarat ini ketika membubuhkan tandatangan di awal masuk kuliah. Tapi keinginannya yang kuat untuk kuliah di UAI, membuatnya merasa bisa mensiasati aturan itu. Apesnya, ada medsos orang terdekatnya yang memposting foto Miki dengan tato. Dan nasibnya pula, ada yang melaporkan ini ke P3EK.

‘’Kalau gue sih gak tahu tuh. Gue tanda tangan, tapi gak sadar ada pasal-pasal itu. Teman-teman gue juga gitu. Tapi Miki mungkin tahu, karena ia sadar bahwa dirinya bertato. Nah, menurut gue, keputusan kampus lemah, karena mereka tidak melakukan pemeriksaan badan di awal. Coba Miki diketahui dari awal, juga mungkin mahasiswa lain, ceritanya bisa berbeda. Tapi ya sudahlah, ini sudah terjadi,’’ kata seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya.

Menurut Miki, akhirnya ia menandatangani Formulir Keluar Studi. Selain dirinya, surat tersebut juga ditandangani Wali, Dekan Atas Nama Kaprodi, Bagian Keuangan, Bagian Administrasi Akademik, dan Bagian Perpustakaan, tertanggal 18 Desember 2017. Sebelumnya, Miki masih ikut KOH di Puncak selama 3 hari, yakni 15-17 Desember. Jadi, surat pengunduran Miki resmi sehari selepas ia melewati pengalaman seru KOH.

Reporter: Sherly Ayu Ravenika | Editor: Nadhira Aliya & Galih Perdana