Kamis (25/07/2018) lalu, Peminatan Branding & Advertising Ilmu Komunikasi Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) melaksanakan UAS Produksi Iklan Elektronik dengan ujian yang sangat unik. Mahasiswa dibagi perkelompok untuk menjadi sebuah agensi dan membuat iklan dari awal hingga selesai menjadi sebuah viideo. Mereka diharuskan mencari perusahaan yang belum memiliki iklan sebelumnya. Perusahaan ini pun dijadikan sebagai klien mereka yang akan memberikan penilaian akhir atas iklan yang telah mereka buat.

Beberapa perusahaan tersebut diantaranya Puyo, Sapatu Care, Sangjo, dan lainnya. Presentasi pertama dilakukan oleh Titik Agency, kelompok dari Nabil, dkk dihadapan Maria Tania, Marketing Communication dari Puyo. Mereka terlihat sangat gugup sebelum tampil dihadapan klien mereka.

Namun, wajah puas dari klien setelah hasil presentasi membuat tim Titik Agency merasa usahanya dalam membuat tugas ini tidak sia-sia. Menurut Maria, hasil iklan yang dibuat Titik Agency sudah sangatlah baik. “Untuk ukuran mahasiswa, hasil mereka sudah cukup oke, hanya perlu diasah sedikit lagi,” ujarnya.

“Menurutku ini salah satu cara yang bagus. Karena disaat kita kuliah, selain belajar teori kita juga harus belajar terjun ke lapangan ketemu klien. Kita juga jadi dapet insight tersendiri penilaian tentang hasil kita dari perusahaan itu gimana, bukan dari dosen aja,” ujar Maria saat ditanya tanggapannya terkait tugas UAS praktik ini.

Presentasi kedua, dilakukan oleh kelompok Hermita dkk yang menamakan diri mereka Trisula Agensi. Mereka membuat iklan untuk Sapatu Care, perusahaan cuci sepatu, yang ikut hadir untuk menilai hasil iklan mereka. Indra dan Fadhil selaku Chairman dan Marketing dari perusahaan Sapatu Care juga mengaku takjub atas hasil kerja dari Trisula Agensi yang kreatif dalam mengembangkan iklan elektronik yang telah mereka buat.

Ahmad Zahid, salah satu mahasiswa dari kelompok Trisula Agensi, merasa bangga karena melihat respon baik dan puas dari bu Alma dan klien setelah menyaksikan iklan yang mereka buat. “Manfaatnya banyak banget. Yang paling penting itu pengetahuan kita tentang produksi iklan bertambah,” ujar Zahid.

Berbeda dengan Aufar Rizqi yang merasa tertantang karena harus membangun konsep bersama orang baru yang belum dikenal. “Yang paling menantang lagi saat kita harus membuat klien puas. Bikin kita termotivasi untuk membuat iklan menarik karena nilai UAS kita tergantung klien,” ujarnya.

Dengan adanya praktik seperti ini, Zahid mengaku banyak pelajaran yang tidak akan ia dapatkan apabila belajar di dalam kelas. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, iklan yang ia buat juga dapat membantunya dalam memasuki dunia kerja.

Di balik pengalaman seru yang mereka dapatkan, tentunya juga terdapat duka yang dirasakan. “UAS ini yang paling capek karena syuting seharian, take berulang kali gagal dan cuaca juga  panas,” ujar Zahid. Sementara menurut Aufar, duka yang ia rasakan adalah biaya yang harus dikeluarkan cukup banyak.

Sementara itu, alasan dari Alma Mandjusri selaku dosen dari mata kuliah produksi iklan elektronik melakukan UAS praktik seperti ini adalah untuk melatih mahasiswanya bertemu klien, mengingat mereka sudah semester 6 dan akan terjun ke dunia kerja sebentar lagi. UAS dengan menghadirkan klien seperti ini sudah dilaksanakan selama 2 tahun belakangan. Mahasiswa yang tidak berhasil mendatangkan klien pun akan failed di mata kuliah ini, karena penilaian UAS mereka dilakukan oleh klien tersebut.

Ujian Seru dengan Praktik Menjadi Agensi Periklanan!

Foto: Safa

Alma Mandjusri akan terus melakukan UAS seperti ini untuk tahun-tahun berikutnya. Karena UAS praktik seperti ini tidak hanya bermanfaat untuk mahasiswanya saja, para klien yang diundang pun ikut senang karena produk mereka dibuatkan iklan oleh mahasiswa. Jika klien menyukai iklan tersebut pun mereka dapat langsung menghubungi para mahasiswa untuk melakukan kerja sama lebih lanjut. Asyik sekali, bukan?

Reporter: Safa Editor: Shinta Aulya