Suara derap langkah kaki manusia menggema di lobi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Segerombolan orang berbaris rapih mengantri menukarkan tiket yang telah mereka beli untuk memasuki gedung teater pada Sabtu, 12 Januari kemarin.   

Tak lama waktu berselang, gedung teater mulai ramai terisi oleh penonton. Seketika lampu teater meredup, dan kemudian lampu-lampu itu memancarkan cahayanya ke arah panggung. Perlahan tirai teater pun terbuka didampingi alunan musik nan syahdu, menampilkan para pemain yang sudah berdiri rapih sebagai pusat perhatian yang siap memukau penonton.

Tenggelam bersama Kisah Haru Biru Teater Van der Wijck dari Rascacielos Choir
Penampilan Para Aktor dan Aktris diatas Panggung

Suasana menjadi hening tak kala para pemain mulai mengalunkan melodi dan seorang lelaki berwajah rupawan berjalan didepan barisan dengan tatapan penuh ratapan. Ia Zainuddin namanya. Orang-orang yang menyaksikan lantas hanyut dalam suasana tersebut. Dengan latar kehidupan masyarakat Minang, Sumatra Barat, para pemain sukses menghayati perannya hingga penonton ikut merasakan emosi yang mereka perankan sepanjang pertunjukkan berlangsung.

Setelah satu tahun yang lalu sukses menyelenggarakan konser Love Through the DecadesRascacielos Choir (RASCHO) di awal tahun ini tepatnya pada 12 Januari 2019 kembali menunjukan pesonanya diatas panggung. Bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, RASCHO hadir dengan menggelar sebuah pementasan teater bertajuk Van der Wijck, yang merupakan adaptasi dari karya sastrawan legendaris Indonesia, Buya Hamka. 

Ada kala dimana alunan musik yang dimelodikan terdengar sangat menyayat hati, ada juga kala dimana alunan musik terdengar seakan menantang para penonton untuk ikut berdendang. Alangkah menyenangkannya! Menit demi menit berlangsung tanpa terasa. Tangisan haru biru penonton menyeruak dari mata seketika tirai ditutup, diikuti dengan tepuk tangan sorak sorai, menandakan pertunjukan telah usai.

Karya kolaborasi Wahyudi Abdul Aziz selaku sutradara, dan juga Dessy Sophianty selaku penata musik ini menyuguhkan sebuah bentuk kesenian yang utuh, yang terdiri dari seni suara, seni drama, dan seni tari. Dalam kurun waktu 10 bulan para mahasiswa UAI ini berlatih di berbagai tempat berbeda, puluhan awak pentas dari mulai tim peralatan panggung, kostum, sampai penciptaan musik yang dinyanyikan oleh para pemain tidaklah sia-sia dan akan terus melekat pada ingatan orang-orang yang hadir menyaksikannya.  

Van der Wijck bercerita tentang seorang pemuda asal tanah minangkabau bernama Zainuddin yang dilepas kekasih hatinya diujung jalan. Gadis itu bernama Hayati, yang melepas Zainuddin dan terpaksa memilih menikahi seorang pria kaya bernama Aziz karena tuntutan adat. Sampai akhir kisah, Zainuddin dan Hayati sesungguhnya saling mencintai, namun sayangnya cinta suci mereka tak bergaris pada kebahagiaan. Begitu banyak batu yang menghalangi keinginan mereka untuk bersama. Kemewahan harta menjadi faktor utamanya.

“Pementasan hari ini sesungguhnya hanyalah perpanjangan tangan dari dakwah Buya Hamka yang mungkin kontekstual dengan zaman sekarang yaitu beragamalah dengan benar dan tepat. Dari karyanya ini Buya Hamka juga menjelaskan tentang betapa mulianya dan indahnya cinta. Betapa cinta itu sebetulnya begitu agung dan tak dapat dibeli ataupun ditukar oleh apapun. Selain itu, dari cerita ini pula Buya Hamka hendak menepis dan mengikis habis mengenai perbedaan-perbedaan” ujar Wahyudi Abdul Aziz selaku Sutradara yang menahkodai pertunjukan ini.

Selain dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, Dekan, dan Kaprodi Universitas Al Azhar Indonesia, turut hadir pula beberapa tamu kehormatan yaitu Afif Hamka yang merupakan cucu dari Buya Hamka dan juga Prof. Dr. Ismunandar-Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Dirjen Risetdikti beserta istri untuk memberikan dukungan pada pementasan hari itu. 

“Ceritanya digarap dengan sangat baik, saya merasa sangat tersentuh ketika menyaksikan adegan demi adegan yang disajikan. Teman-teman mahasiswa sudah menampilkan peran yang begitu excellent. Saya rasa dengan penampilan sebagus ini, untuk kedepannya RASCHO bisa tampil dikhalayak yang lebih luas,” ucap Prof. Dr. Ismunandar yang ditemui di akhir pementasan.  

“Kisah dan dialognya hampir sama banget yang kayak ada di Novelnya, tetapi Teater ini memberikan atmosfir dan emosi yang tiada duanya! Ironi kisah Zainuddin & Hayati terasa seperti sungguhan” kata salah satu penonton yang merupakan mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia.

Tenggelam bersama Kisah Haru Biru Teater Van der Wijck dari Rascacielos Choir
Penampilan Hayati yang menyayat hati | Foto: Gani Kamaluddin

Pementasan ini dibagi menjadi dua sesi yakni sesi satu yang dimulai pada pukul 14.30 WIB dan sesi dua yang dimulai pada pukul 19.30 WIB. RASCHO berhasil membuktikan eksistensinya dengan menjual habis tiket-tiket pertunjukannya. Terbukti dari kedua sesi tersebut seluruh bangku penonton hampir tak ada sisa.

Such an incredible masterpice, Rascho! Mahakarya yang berbuah manis tentunya dihasilkan dari kerja keras yang fantastis. 

Van der Wijck merupakan penampilan teater yang hidup tak hanya dari peran yang dimainkan, melainkan lagu original serta koreografi yang membuat kita tertawa atau bahkan terharu. Kemudian berakhir dengan kita akan merindukan Teater dan Kisah ini, meskipun memori menyenangkan yang menyentuh sanubari akan selalu ada dalam benak. Semoga Rascacielos Choir dapat kembali menampilkan karya-karya yang mengagumkan lainnya!

Reporter: Nia Aulia Editor: Novia Aprilia Hermawan