Ada yang berbeda di hari Jumat pagi, tepatnya Auditorium Arifin Panirogo Universitas Al Azhar Indonesia. Tembok putih telah tertutupi dengan kain hitam yang membentang, dan lampu lampu hiasan kecil tersemat di kain membuat suasana auditorium menjadi hangat. Bukan hanya itu, layar besar diatas panggung yang tersorot lampu dengan nuansa merah putih dan tidak ketinggalan 3 sofa nyaman semakin memperjelas situasi auditorium. Ada seminar bincang seru Mahfud saat itu.

Sumber Foto: deCODE

Meski memang seminar tersebut ‘bincang seru mahfud’, namun acara tersebut dipandu oleh moderator Inayah Wahid yang sangat asik membawakan diskusi mengenai Inspirasi, Kreasi, Pancasila. Mahfud MD menjadi key note speaker pada acara pembuka, lalu disusul dengan diskusi serius tetapi asik bersama 2 Narasumber yaitu Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin Ms.C dan Komika Arie Kriting. Bukan hanya diskusi asik yang bisa kita nikmati, tetapi juga ada Cak Lontong dan Akbar yang melucu di akhir acara. Mahfud MD menginisiasi acara ini untuk berdiskusi bagaimana cara menghayati dan mengimplementasikan pancasila.

Sumber Foto: deCODE

“Ide dari acara ini kita ingin mendikusikan dan menghayati pancasila secara bersama anak anak milenial mulai dari sila ke satu sampai sila ke lima.” Ujar Mahfud.

Pak Asep Saefuddin berpendapat mengenai cara kita untuk mengimplementasikan pancasila. Pak Asep menjabarkannya bagaimana cara kita mengimplementasikannya mulai dari sila ke satu sampai sila ke lima. Menurutnya yang sangat penting adalah how to implement the essence of Pancasila dalam kehidupan kita. Pak Asep juga meberikan pesan kepada kita untuk bersatu kembali setelah panasnya pemilu dengan mengimpelmentasikan Pancasila salah satunya Pancasila ketiga.


“Saya melihat sudah mulai adem, karena melihat suatu hal yang poisitif dari negara kita yaitu sosial kapital halal bihalal. Setelah lebaran kita halal bihalal, itu jadi modal untuk bersatu, yang tadinya berpendapat kubu 01 dan 02, Sekarang ada beberapa titik muncul 03 yaitu persatuan Indonesia.”

Sumber Foto: deCODE

Mungkin memang rasanya sulit untuk bisa menampik bahwa saat ini masih saja yang mengkotak-kotakan bangsa kita seiring dengan panasnya pemilu. Permainan politik identitas mengenai SARA juga tidak luput menjadi masalah yang sulit terhindarkan. Arie Kriting berpendapat hal tersebut merupakan masalah di Indonesia yang disebabkan karena stereotipe. Kita harus merubah stereotipe yang buruk tentang Indonesia lalu membandingkannya dengan negara lain.

Bagi Arie Kriting bangsa Indonesia secara pemikiran lebih maju dibanding bangsa lain. Maka Arie Kriting mengajak untuk kita sebagai bangsa Indonesia tidak perlu merasa bahwa apa yang ada di luar bangsa kita adalah sesuatu yang bagus. Arie Kriting sangat mempercayai bahwa bangsa Indonesia sudah lebih maju. Arie Kriting berharap jangan sampai negara kita yang sudah maju ini, dirusak bangsa kita sendiri yang berusaha memundurkannya.

“Jangan kita berkata sistem di Amerika seperti ini, sistem yang di timur tengah seperti ini. Tidak. Sistem di Indonesia sejak awal menurut saya sudah jauh lebih baik, jauh lebih maju dari pada yang lain, sudahlah jangan kita berpikir pelajari sistem negara luar, bawa masuk, itu malah membawa kemuduran di negara kita.”

Arie juga tidak menampik bahwa pada saat ini fakta banyak yang sibuk dengan kelompoknya saja, sibuk dengan apa yang mereka percayai, menganggap bahwa cara yang orang lain yang dilakukan adalah sesuatu yang salah. Namun hal itu menurutnya dapat dibantahkan dengan adanya dasar negara Indonesia yaitu Pancasila.

Sumber Foto: deCODE

Ia percaya bahwa pancasila adalah fondasi dasar yang membuat hal tersebut semuanya hilang. Ia melihat pancasila sebagai tangga berjenjang yang harus kita lalui satu persatu. Namun Arie Kriting berpendapat pada implementasinya Pancasila harus dimulai dari sila kelima, lalu sila keempat dan seterusnya hingga ke sila pertama. Hal tersebut dipercayainya karena untuk sampai ke atas mulai dari bawah.

“Kalo kita mau mewujudkan Pancasila memang bacanya dari atas, tetapi mewujudkannya dari bawah. Karena untuk sampai pada ketuhanan kita harus punya rasa keadilan, kita harus bermufakat untuk hal-hal yang baik, kita harus mengutamakan persatuan, kemudian kita harus mendahulukan perasaan kemanusiaan dan menjadi beradab, baru menurut saya kita bisa bertemu dengan tuhan, dengan cara yang manusiawi”

Reporter: Maulani Mulianingsih
Editor: Faisal Barakuan