5 tahun kedepan yang ditentukan dari sekarang. Kubu sana bilang gini, kubu situ bilang gitu, jadi yang bener yang mana? Pemilu yang diadakan 17 April kemarin ternyata menyisahkan secercah perdebatan. Fakta dan opini dicampur aduk, hampir tak bisa dibedakan.

Hal ini tak lepas dari adanya perbedaan hasil quick countoleh berbagai lembaga independend maupun lembaga internal masing-masing pihak. Tuduh-menuduh pun kerap kali dilontarkan, membuat publik semakin bingung mana data yang benar.

Quick count hanyalah sebuah prediksi dari hasil yang sebenarnya (real count). Namanya juga prediksi, bisa benar atau bisa juga salah. Hasil yang diambil hanya berdasarkan beberapa data TPS yang tersebar di seluruh Indonesia, atau dalam istilah ilmu statistik ialah data atas sample bukan populasi.

Sebagai bentuk penjelasan kepada publik, Perhimpunan Survei Opini Publik (PERSEPSI) mengundang rekan-rekan media dalam acara “Expose Data Hasil Quick Count Pemilu 2019” yang dilaksanakan Sabtu 20 April 2019 kemarin. Tim Redaksi deCODE berkesempatan hadir dan meliput langsung bedah prosesi yang dilakukan oleh 8 anggota PERSEPSI.

“Aktivitas quick count adalah satu dari beberapa aktivitas opini publik yang legal dalam undang-undang dalam konteks pemilu. Merupakan aktivitas saintek dan diselenggarakan secara serius. Quick count pun menjadi kegiatan rutin dengan track-record cukup baik dan hampir tidak meleset dari real count”, tutur Philip. J. Vermonte (Ketua Umum Persepsi).

Nah, sudah jelas kan Sahabat deCODE bahwa quick count hanya berupa prediksi dan sebagai alat kontrol pemilu. Jadi gak ada yang namanya salah atau benar. Benar itu ketika lembaga KPU sudah merilis hasil penghitungannya ya! Yuk, stop untuk menuduh siapa yang salah dan benar!

Reporter: Nada Salsabila Editor: Nur Syifa Buchis