February 24, 2024

deCODE

Progressive News & Creative Magazine

Bermula dari Pemenang, Hingga menjadi Seorang CEO

5 min read
Dipo Alattas: Bermula dari Pemenang, Hingga menjadi Seorang CEO

Sumber foto: Dokumen Pribadi

“Kebahagiaan ada pada kaki-kaki yang bergerak.”

Muhammad Diponegoro, atau yang akrab disapa Dipo merupakan salah satu mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia jurusan Ilmu Komunikasi yang memiliki segudang prestasi dalam dunia beatbox. Pria kelahiran Tangerang, 13 April 1999 semasa kecilnya tinggal di Tangerang bersama keluarganya. Namun saat ini, ia tinggal di daerah Jakarta Timur. Banyak hal yang dapat dipetik dari perjalanan hidupnya.

Mulanya, ia memiliki hobi bermain skateboard dan bermain sepeda fixie. Lalu, ia mencoba untuk terjun ke dunia beatbox pada tahun 2011. Saat masih duduk di bangku SMP. “Gua pertama kali belajar beatbox dari kelas 1 SMP tahun 2011. Terus gua liat orang main beatbox itu pas demo ekstrakurikuler dari kakak kelas. Dari situ gua penasaran sama beatbox, karena keliatannya unik,” cerita Dipo.

Seiring berjalannya waktu, ia terus mendalami dunia beatbox dengan berbagai cara. Mulai dari belajar otodidak, menonton tayangan dari youtube, sampai akhirnya mengikuti lomba. Menurutnya, resiko kecelakaan bermain beatbox itu lebih kecil dibandingkan dengan bermain skateboard dan sepeda fixie.

Selain itu dengan mengeksplor beatbox, modal yang digunakan juga kecil dibandingkan dengan hobi ia sebelumnya. “Dengan beatbox, kita bisa mengeksplor lebih dalam tentang diri kita juga loh. Jadi kemampuan mengatur tempo, kemampuan mengatur music lebih dominan ke otak dari pada ke tenaga. Kalau main skate dan fixie itu kita masih ada setengah tenaga, setengah otak. Tapi kalo beatbox itu otaknya 80 persen, tenaganya 20 persen,” terang Dipo.

Tahun 2012

Pada awal tahun 2012, ia mengikuti komunitas yang bernama Heart Beatbox Community bersama teman-temannya di Tangerang. Ketika sudah bergabung di komunitas tersebut, ia merasa bahwa ia belum siap untuk gabung di organisasi atau komunitas tertentu. Pada saat itu, shuffle dance sangat ngetrend di usianya. Dikarenakan hal tersebut, akhirnya ia dan sahabatnya yang bernama Fawayyid Hamdi memutuskan untuk bergabung lagi di komunitas yang bernama Roulette.

Memperingati Hari Down Syndrome Internasional dengan Menonton Film Where Hope Grows
Sumber foto: Dokumen Pribadi

Ketika sudah mengikuti perkembangan Roulette, ia mulai menemukan jati dirinya untuk belajar berkomunitas hingga saat ini. Tiba saatnya mereka mengganti nama komunitas tersebut menjadi Roulette of Beatbox yang isinya menampung beberapa bakat seperti shuffle dance, beatbox, dan lainnya. “Akhirnya gua sama Fawayyid gabung dengan Roulette, tempatnya di Tangerang City Mall. Dari Roulette itu, gua baru belajar berkomunitas sampe saat ini. Dari situ gua suka ikut nih tampil-tampil di SMP kayak pensi gitu,” jelas Dipo.

Tahun 2013

Awal mula prestasinya dimulai ketika pada tahun 2013, ia menjadi salah satu peserta lomba se-Jabodetabek dengan nama acaranya Hexos Beatbox Championship 2013 di Tangerang. Dengan mengikuti ajang tersebut, ia masuk dalam kategori pemenang empati besar. “Jadi jaman dulu tuh lombanya ya biasa aja gitu. Itu termasuk beruntung sih. Alhamdulillah, soalnya dulu gua gak jago gitu,” cerita Dipo.

Tahun 2014

Pada tahun 2014, Dipo kembali mengikuti kompetisi Hexos Beatbox Championship 2014 dan ia berhasil mendapatkan juara 3. Di tahun yang sama, ia juga mengikuti Lomba Duta IM3 Mobile Academy Nasional yang diadakan oleh provider Indosat se Indonesia.

Lomba Duta IM3 Mobile Academy Nasional tersebut tidak hanya beatbox saja yang diuji, melainkan seluruh ajang pencarian bakat yang akan diuji oleh juri seperti story telling, bernyanyi, beatbox, menjadi presenter, dan yang lainnya.

Memperingati Hari Down Syndrome Internasional dengan Menonton Film Where Hope Grows
Sumber foto: Instagram @dipoalatas

Pada akhirnya, ia terpilih dan lolos seleksi. Walaupun, pada saat itu usianya masih tergolong muda. Dipo tetap mengikuti tahap selanjutnya yaitu, karantina di KPPTI Indosat. Di karantina tersebut, ia banyak belajar tentang materi IM3, produk IM3, dan lainnya. “Pas karantina itu, kita belajar kayak produknya apa, perkenalan gitu gaterlalu mendalam banget sih,” ujarnya.

Namun, Dipo tidak lolos sampai babak final. “Gua kalah, kan. Jadi, pas grand final itu ya gitulah. Gua dapet pertanyaan paling sulit, sementara temen-temen gua yang lainnya pada dapet gampang-gampang gitu. Karena gua dapetnya undian sisaan, terus yaudah dari situ gua biasa aja deh,” terang Dipo.

Dibalik keputusasaannya, ia mendapatkan panggilan mendadak untuk maju ke final. Alasannya adalah karena ada satu orang yang tidak bisa melanjutkannya ke final. “Gua sedih banget kan kenapa dia gitu yang mundur. Akhirnya gua nih yang lanjutin ke nasional, gua yang gantiin dia. Otomatis disitu gua nerima beban juga kan. Gua harus lebih semangat karna gua menggantikan peran orang kan. Ini rezeki gua aja gitu. Yaudah dari situ gua masuk,” cerita Dipo.

Memperingati Hari Down Syndrome Internasional dengan Menonton Film Where Hope Grows
Dipo menjadi Semi Finalist acara beatbox di Bandung

Setelah mendapatkan panggilan, akhirnya ia mengikuti karantina lagi di kantor pusat Indosat selama 4 hari 3 malam. Peserta yang hadir dalam karantina itu dari berbagai penjuru yang ada di Indonesia, tetapi tidak keseluruhan provinsi ikut. “Jadi semua daerah ada itu ada perwakilannya. Dari Sulawesi ada, dari Kalimantan ada, Papua ada, Jawa Tengah ada, dan lain-lain juga ada,” jelas Dipo.

Dari kompetisi tersebut, banyak hal yang Dipo pelajari. Seperti, bagaimana caranya menjadi pemimpin, menerima pendapat orang lain, serta kerjasama. Menurutnya, pengalaman yang ia dapatkan dari sana tak akan ia lupain.

Setelah menjalankan tahap karantina selama empat hari, akhirnya ia berhasil merebut gelar pemenang The Most Favorite Academiers dengan posisi pemenang Runner Up. “Gua kaget disitu, ternyata gua pemenang The Most Favorite Academiers, jadi runner up. Jadi, gua pemenang nasional gitu peringkat 2 teratas. Kalau peiringkat 1 namanya Iki dari Ciamis yang nyanyi seriosa. Dia masuk kategori The Best of The Best. Sisa juaranya ya perbakat gitu,” ujar Dipo.

Dari situ, ia mendapatkan hadiah trip ke Bali dan ke Pulau Derawan bersama teman-teman pemenangnya. Selain mendapatkan pengalaman yang berkesan, Dipo juga mendapat banyak teman dari Sabang sampai Merauke. Selain itu, ia banyak belajar dari perbedaan budaya Indonesia yang berpengaruh terhadap karakter orang-orang. “Nah, enaknya disini, gua ketemu banyak temen-temen dari seluruh Indonesia yang isinya orang-orang yang berkualitas semua pada saat itu. Gua sebagai anak kecil jadi bisa sharing ke mereka gitu,” Ucap Dipo.

Tahun 2015

Dipo berharap besar bahwa lomba Duta Indosat dapat hadir pada tahun 2015. Namun, sangat disayangkan, ternyata lomba tersebut sudah ditiadakan dan menjadi lomba terakhir yang diikuti oleh Dipo. Saat itu, ia sudah mulai tidak fokus lagi dengan lomba beatbox. Ketika akhir tahun 2015, ia mulai mengikuti lomba beatbox lagi. Walaupun, hasilnya tidak memuaskan.

Tahun 2016

Memasuki awal tahun 2016, mantan juara Runner-Up tersebut kembali mengikuti lomba beatbox di Jakarta dan berhasil mendapatkan peringkat pertama. Dipo mulai mengikuti lomba lagi di kota Bandung dan mendapatkan juara 3. Selain itu, ia juga mencoba untuk mengikuti lomba di beberapa daerah seperti Tangerang, Garut, Indramayu, Kalimantan, Surabaya dan lainnya.

Memperingati Hari Down Syndrome Internasional dengan Menonton Film Where Hope Grows
Sumber foto: Instagram @dipoalatas

“Sejauh ini, dari tahun 2016 sampe sekarang udah mendapatkan 18 kali juara 1 lomba-lomba lokal. Pokoknya, gua ikut lomba sampe akhir tahun 2017 lah. Gua ngerasa kok gua gini-gini doang. Akhirnya, gua coba improve kan. Kok kalo sering battle gitu kayaknya gak asik.” cerita Dipo.

Bosan dengan mengikuti lomba dimana-mana, akhirnya Dipo mencoba untuk membuat lomba beatbox terbesar se-Indonesia dengan teman-temannya yang bertempat di Tangerang City Mall. Nama acaranya adalah Werewolf Beatbox Championship. Alasannya karena belum pernah ada lomba beatbox resmi se-nasional di Indonesia.

Di samping itu, Dipo mengundang tamu dari Singapura dan Perancis sebagai guest star dan artis beatbox pemenang tahun sebelumnya. Acara tersebut berlangsung sukses dengan menghadirkan peserta sebanyak 90 orang dan penonton sebanyak 300 orang.

Selain sharing mengenai pengalaman, Dipo yang menjadi CEO dari acara tersebut, memberikan tips di balik keberhasilan acara yang dibuatnya. “Gua gapernah ngajak sponsor tuh sebagai sponsor, tetapi sebagai kerjasama. Jadi, kita tuh kerjasama ngebangun acaranya. Ketika membuat event itu, lebih belajar berorganisasi, bukan berkomunitas ya. Jadi, kita yaa.. ada kerja bareng lah, belajar job desk lah, dan lainnya.”

Dipo menjadi juara 1 di acara Break The Beat Beatbox Battle 2016
Dipo menjadi juara 1 di acara Break The Beat Beatbox Battle 2016

Seperti kata pepatah, ‘kebahagiaan ada pada kaki-kaki yang bergerak’. Maksudnya, kebahagiaan ada pada kerja keras, bukan diraih ketika seseorang diam saja menunggu datangnya kebahagiaan. Jadi, jika kamu ingin sukses bekerjalah!

Reporter: Sherly Ayu R. | Editor: Nadhira Aliya & Galih Perdana

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.